TERASBANDUNG.COM - Sebagian besar wilayah di Jawa Barat diperkirakan akan menghadapi musim kemarau yang lebih ekstrem pada 2026.

Kondisi ini ditandai dengan curah hujan yang jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata klimatologis dalam tiga dekade terakhir.

Prakirawan dari BMKG, Vivi Indhira, menjelaskan bahwa mayoritas wilayah akan mengalami penurunan intensitas hujan selama periode kemarau tahun ini.

“Sebanyak 93 persen wilayah di Jawa Barat akan mengalami sifat hujan di bawah normal saat musim kemarau.

Baca Juga : Musda Ulang DPD Perbasi Jabar Disambut Positif, Iman Firmansyah Siap Maju

Artinya, curah hujan bakal lebih rendah dibandingkan rata-rata normalnya sehingga musim kemarau tahun ini lebih kering dibandingkan biasanya,” ujarnya.

Daftar Wilayah Jabar yang Terdampak Kemarau Panjang

Wilayah seperti Kota Bandung, Kota Tasikmalaya, Cianjur, hingga Cirebon diperkirakan terdampak kondisi tersebut. Hanya sebagian kecil wilayah yang diprediksi memiliki curah hujan normal.

Tak hanya lebih kering, durasi musim kemarau juga diprediksi berlangsung lebih lama di sebagian besar wilayah.

Bahkan, sekitar 81 persen daerah diperkirakan mengalami kemarau berkepanjangan, terutama di wilayah seperti Sukabumi dan Indramayu.

Sementara itu, sebagian kecil wilayah memiliki durasi kemarau yang relatif normal atau bahkan lebih pendek. Untuk Kota Bogor, hujan diperkirakan tetap terjadi sepanjang tahun sehingga perbedaan musim tidak terlalu signifikan.

BMKG juga memprediksi awal musim kemarau akan dimulai bertahap, dengan mayoritas wilayah masuk pada Mei hingga Juni 2026. Adapun puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 di hampir seluruh wilayah Jawa Barat.

Baca Juga : Pemkot Bandung Perketat Pengawasan WFH ASN, Muhammad Farhan Siapkan Sanksi Lebih Berat

Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan, terutama dalam pengelolaan sumber daya air dan sektor pertanian.

"Antisipasi krisis air bersih dengan penyaluran air dan sumur bor darurat. Kita juga perlu hemat air," kata Vivi.

Selain itu, petani diimbau menyesuaikan pola tanam serta memilih komoditas yang lebih tahan terhadap kekeringan. Risiko kebakaran hutan dan lahan juga menjadi perhatian serius seiring meningkatnya suhu dan minimnya curah hujan.

BMKG turut mengingatkan dampak terhadap kesehatan masyarakat, terutama potensi meningkatnya penyakit pernapasan akibat kualitas udara yang menurun selama musim kemarau.

"Antisipasi peningkatan infeksi saluran pernafasan akut akibat asap. Awasi juga kualitas sanitasi saat pasokan air berkurang," ucap Vivi.***