TERASBANDUNG.COM - Ning Wahyu Asutik kembali dikukuhkan sebagai Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Barat. Pada kepengurusan periode 2026-2031, Apindo Jabar berkomitmen memperkuat peran organisasi sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, menjaga iklim investasi, serta memperkuat daya saing industri di Jawa Barat.

Pengukuhan pengurus Apindo Jabar periode ini dilakukan oleh Ketua Umum Apindo, Shinta W. Kamdani, dalam acara yang digelar di El Hotel, Kota Bandung, Jumat 26 Juni 2026.

Ning mengemukakan kepengurusan periode kedua akan difokuskan pada penguatan peran Apindo sebagai organisasi yang tidak hanya mewadahi para pelaku usaha, tetapi juga menjadi mitra pemerintah dalam merumuskan berbagai kebijakan ekonomi yang berpihak pada pertumbuhan investasi dan keberlangsungan industri.

"Kami ingin Apindo menjadi mitra strategis pemerintah sekaligus think tank yang mampu memberikan berbagai rekomendasi kebijakan ekonomi daerah. Kami akan terus memperkuat organisasi hingga tingkat kabupaten dan kota agar manfaatnya semakin dirasakan dunia usaha," papar Ning.

Menurutnya, penguatan organisasi juga akan diarahkan untuk menjaga industri yang telah beroperasi di Jawa Barat sekaligus menarik investasi baru agar terus masuk ke provinsi tersebut.

Dia mengatakan, iklim investasi di Jawa Barat saat ini semakin kompetitif berkat berbagai kemudahan perizinan dan respons cepat pemerintah daerah terhadap persoalan yang dihadapi pelaku usaha. "Saya mengapresiasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat, khususnya Gubernur Dedi Mulyadi, yang sangat responsif terhadap berbagai persoalan dunia usaha. Kondisi ini menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan investor," katanya.

Meski optimistis terhadap prospek investasi, Ning mengingatkan dunia usaha saat ini masih menghadapi tantangan yang tidak ringan. Perlambatan ekonomi global membuat permintaan ekspor dari berbagai negara mengalami penurunan sehingga berdampak pada industri manufaktur, terutama sektor padat karya.

Di tengah kondisi tersebut, pelaku usaha kembali dihadapkan pada persoalan terganggunya pasokan listrik yang terjadi di sejumlah kawasan industri dalam beberapa waktu terakhir.

Menurutnya, pemadaman listrik yang berlangsung selama berjam-jam memberikan dampak besar terhadap aktivitas produksi perusahaan. Dia menjelaskan, gangguan pasokan listrik menyebabkan proses produksi berhenti secara mendadak sehingga bahan baku maupun produk yang sedang diproses di dalam mesin menjadi rusak dan tidak dapat digunakan kembali.

Selain menimbulkan kerugian material, pemadaman listrik juga mengacaukan jadwal produksi yang telah disusun perusahaan.

"Ketika listrik mati, target produksi hari itu harus dikejar melalui lembur pada hari berikutnya. Artinya biaya operasional perusahaan meningkat karena harus membayar biaya produksi hingga dua kali lipat," jelas Ning.

Dampak lainnya yang dinilai lebih serius adalah terganggunya jadwal pengiriman produk ekspor. Keterlambatan pengiriman berpotensi memicu teguran dari pembeli luar negeri hingga pengurangan pesanan.

Apindo meminta seluruh pihak memberikan perhatian serius terhadap persoalan tersebut agar stabilitas pasokan energi dapat terjaga sehingga dunia usaha mampu beroperasi secara optimal.

Di sisi lain, Ning juga mengajak seluruh elemen pekerja dan serikat buruh menjaga hubungan industrial yang kondusif agar perusahaan dapat bertahan menghadapi tekanan ekonomi global.

"Ini bukan hanya tanggung jawab pengusaha ataupun pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama. Kami berharap seluruh pekerja ikut menjaga kondusivitas di lingkungan perusahaan agar industri tetap bertahan," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Apindo, Shinta W. Kamdani, menilai Jawa Barat masih menjadi salah satu daerah dengan prospek investasi terbaik di Indonesia meskipun tantangan global terus membayangi sektor industri.

Menurutnya, isu perlambatan industri akibat gelombang PHK memang harus menjadi perhatian. Namun di saat yang sama, berbagai industri baru juga terus tumbuh sehingga peluang ekonomi Jawa Barat masih sangat besar.

"Di bawah kepemimpinan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi berhasil menunjukkan transformasi yang signifikan dan bahkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain. Kawasan industri terus berkembang dan melahirkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru," kata Shinta.

Dia menyebut kekuatan Jawa Barat ditopang oleh jumlah penduduk usia produktif yang mencapai lebih dari 70 persen, menjadikannya modal besar bagi pertumbuhan industri nasional.

Selain itu, Jawa Barat juga merupakan kontributor Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terbesar kedua di Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,85 persen. Dari sisi perdagangan internasional, nilai ekspor provinsi ini telah mencapai sekitar 38 miliar dolar Amerika Serikat atau menyumbang sekitar 13,5 persen terhadap total ekspor nasional.

Shinta juga menyoroti realisasi investasi Jawa Barat yang masih menjadi yang tertinggi secara nasional. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan investor terhadap daerah ini tetap kuat.

"Kadang angka-angka ini tidak terlalu terlihat, tetapi faktanya investasi masih masuk sangat besar ke Jawa Barat. Ini menunjukkan kepercayaan investor tetap tinggi," ujarnya.

Dia menambahkan, ruang pertumbuhan ekonomi Jawa Barat masih terbuka luas, baik melalui pengembangan sektor manufaktur, pertanian, ekonomi kreatif maupun investasi hijau seperti pembangkit listrik tenaga surya, tenaga air, hingga mikrohidro yang kini mulai berkembang di berbagai daerah.

Dengan kepengurusan baru, Apindo Jawa Barat optimistis mampu memperkuat kolaborasi bersama pemerintah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga keberlangsungan industri sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi yang berkelanjutan di Jawa Barat.