TERASBANDUNG.COM - Pemerintah Kota Bandung terus mematangkan rencana pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya sebagai salah satu solusi mengatasi kemacetan sekaligus meningkatkan kualitas layanan transportasi publik.

Selain memperkuat sistem angkutan massal, proyek ini juga dinilai mampu membuka peluang investasi baru untuk mendukung penataan kawasan perkotaan.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, salah satu langkah yang disiapkan pemerintah adalah pembangunan gedung parkir di sepanjang koridor BRT.

Kebijakan tersebut diterapkan karena nantinya kendaraan tidak lagi diperbolehkan parkir di badan jalan, begitu pula aktivitas pedagang kaki lima di sepanjang jalur utama BRT.

Baca Juga : Kasus Begal Arcamanik Bandung: Farhan Pastikan Korban Dapat Perawatan Maksimal, Polisi Terus Buru Pelaku

"Sepanjang jalur BRT tidak boleh ada parkir dan tidak boleh ada PKL. Karena itu kami mengundang investor untuk membangun gedung parkir sebagai bagian dari penataan kawasan," kata Farhan dikutip dari keterangan resmi, Senin (27/7/2026).

Skema PSO Disiapkan, Tarif BRT Ditargetkan Terjangkau

Farhan menjelaskan, Pemerintah Kota Bandung telah memberikan dukungan terhadap skema Public Service Obligation (PSO) sejak 2024.

Menurutnya, Kota Bandung menjadi salah satu daerah yang akan memperoleh manfaat besar dari penyelenggaraan layanan transportasi massal tersebut.

Agar masyarakat semakin tertarik beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum, Pemkot Bandung juga mengusulkan tarif BRT tetap terjangkau.

Baca Juga : Bandung Mulai Dilanda Kekeringan, Begini Strategi Pemkot Jaga Pasokan Air Bersih

"Saya sedang berjuang supaya tarifnya sekitar Rp7.000 sehingga masyarakat semakin tertarik menggunakan transportasi publik," ujarnya.

Dengan tarif yang kompetitif, pemerintah berharap penggunaan transportasi publik meningkat sehingga kepadatan lalu lintas di Kota Bandung dapat berkurang secara bertahap.

Angkot Tetap Beroperasi, Berubah Jadi Feeder Listrik

Farhan memastikan kehadiran BRT tidak akan menghapus keberadaan angkutan kota yang selama ini menjadi bagian dari sistem transportasi Bandung.

Sebaliknya, angkot akan menjalani transformasi fungsi menjadi armada feeder berbasis kendaraan listrik yang bertugas menghubungkan permukiman dengan koridor utama BRT.

Skema tersebut diharapkan menciptakan sistem transportasi yang lebih terintegrasi, efisien, dan ramah lingkungan.

Baca Juga : Bingung Mau Makan Siang? Ini 10 Tempat Kuliner Bandung yang Lagi Jadi Rebutan, Nomor 3 Bikin Ketagihan!

"Angkot lama tidak akan dihilangkan tapi akan jadi layanan feeder yang terhubung dengan koridor utama BRT," tutup Farhan.

Melalui integrasi BRT dengan layanan feeder listrik serta penataan kawasan di sepanjang koridor, Pemerintah Kota Bandung menargetkan terciptanya sistem transportasi publik yang lebih modern, nyaman, dan mampu menjadi pilihan utama masyarakat dalam beraktivitas sehari-hari.***