TERASBANDUNG.COM - Pemerintah Kota Bandung memperkuat program Siskamling Siaga Bencana untuk meningkatkan kesiapan masyarakat menghadapi ancaman bencana.

Program ini menargetkan penurunan Indeks Risiko Bencana dari 95,15 menjadi 85,15 melalui peningkatan kapasitas warga dan koordinasi lintas sektor.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan hal tersebut saat membuka Simposium Penguatan Budaya Tangguh Bencana Berbasis Komunitas, Selasa, 20 Oktober 2026. Menurutnya, kesiapsiagaan harus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, bukan hanya tanggung jawab pemerintah.

“Bencana mungkin tidak selalu dapat kita cegah, tetapi kita dapat memastikan bahwa masyarakat Bandung tidak menghadapinya tanpa kesiapan dan dalam kesendirian,” kata Farhan.

Baca Juga : Viral Teteh-Teteh di Bandung Hadang Pemotor Lawan Arah, Aksinya Tuai Sorotan

Program yang mulai dijalankan pada 22 September 2026 ini mengusung semangat Warga Jaga Warga, Warga Jaga Kota. B

andung menghadapi berbagai ancaman, mulai dari kebakaran dan tanah longsor hingga potensi gempa bumi yang berkaitan dengan Sesar Lembang. Dengan sekitar 2,6 juta penduduk di 30 kecamatan dan 151 kelurahan, keterlibatan warga dinilai penting untuk memperkuat mitigasi.

Farhan memaparkan lima langkah utama, yakni mengintegrasikan risiko bencana dalam pembangunan, meningkatkan kesiapan keluarga, memperkuat peran komunitas, membangun koordinasi penanganan darurat, serta mengukur efektivitas program berdasarkan dampaknya terhadap pengurangan risiko.

Masyarakat didorong menyiapkan tas siaga bencana, memahami jalur evakuasi, dan menyusun rencana darurat keluarga.

PKK, Posyandu, Karang Taruna, serta relawan juga diharapkan membantu edukasi kebencanaan dan memastikan kelompok rentan mendapat perhatian saat keadaan darurat.

Pemkot Bandung turut mengevaluasi layanan kedaruratan 112, 113, dan 119. Farhan menyebut hasil pengujian menunjukkan waktu respons kurang dari 15 menit.

Baca Juga : Geger! Benda Logam Raksasa Ditemukan di Kebun Sawit Kotim, Ternyata Puing Roket China

Evaluasi lanjutan diperlukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan koordinasi penanganan laporan masyarakat.

Selain itu, Pemkot Bandung menjajaki pemanfaatan frekuensi Radio Republik Indonesia (RRI) untuk memperluas penyebaran informasi peringatan dini. Pemetaan wilayah rawan, pendataan warga rentan, serta simulasi kebencanaan secara berkala juga akan diperkuat.

Siskamling Siaga Bencana melibatkan berbagai unsur, termasuk BPBD, Dinas Kebakaran dan Penyelamatan, Dinas Sosial, Satpol PP, Linmas, perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas masyarakat.

Kolaborasi ini diharapkan membuat upaya pencegahan hingga penanganan bencana berjalan lebih terintegrasi.

“Yang paling penting adalah bagaimana budaya siaga bencana menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan terus berjalan. Kolaborasi, integrasi, dan pelaksanaan berbasis risiko serta berorientasi kepada masyarakat menjadi kunci untuk membangun ketangguhan kota,” katanya.

Farhan menegaskan, ketangguhan Bandung harus dibangun melalui kesiapan individu, kepedulian terhadap sesama, dan dukungan pemerintah dalam menghadapi bencana. “Warga jaga warga, warga jaga kota. Kota nu urang sadayana,” tuturnya.***