Ilustrasi
TERASBANDUNG.COM - Membakar jerami setelah panen masih menjadi salah satu cara yang dipilih sebagian petani untuk membersihkan lahan dengan cepat. Namun, kebiasaan ini menyimpan sejumlah risiko, mulai dari pencemaran udara, gangguan pernapasan, hingga kebakaran lahan yang dapat meluas ke area persawahan dan permukiman warga.
Jerami yang dibakar dalam jumlah besar dapat menghasilkan asap pekat. Jika asap terbawa angin ke jalan raya atau kawasan permukiman, dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga masyarakat di sekitar lokasi.
Risiko pembakaran jerami perlu menjadi perhatian, terutama ketika cuaca panas, kondisi lahan kering, dan angin kencang membuat api lebih mudah menyebar. Karena itu, petani disarankan mempertimbangkan cara pengelolaan sisa panen yang lebih aman dan bermanfaat.
1. Asap Jerami Berisiko Mengggu Pernapasan
Salah satu dampak langsung dari membakar jerami adalah munculnya asap yang dapat menurunkan kualitas udara. Asap pembakaran biomassa mengandung partikel halus dan berbagai gas hasil pembakaran yang dapat mengiritasi saluran pernapasan.
Paparan asap bisa menyebabkan mata perih, tenggorokan terasa tidak nyaman, batuk, dan sesak napas. Orang yang memiliki gangguan pernapasan, anak-anak, lansia, serta kelompok yang sensitif terhadap polusi udara perlu lebih berhati-hati.
Jika asap menyebar ke jalan raya, jarak pandang pengendara juga dapat terganggu. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan, terutama apabila pembakaran dilakukan di dekat jalan atau saat angin membawa asap melintasi jalur kendaraan.
2. Api Bisa Menjalar dan Memicu Kebakaran Lahan
Jerami kering merupakan bahan yang mudah terbakar. Api yang awalnya dinyalakan untuk membersihkan sisa panen dapat membesar apabila tertiup angin atau merambat ke rumput kering, semak, tanaman, dan material mudah terbakar lainnya.
Bahaya semakin besar ketika pembakaran dilakukan di tengah cuaca panas dan minim hujan. Api juga dapat menyebar melewati batas petak sawah sehingga sulit dikendalikan, terlebih jika lokasi jauh dari sumber air atau akses petugas pemadam kebakaran terbatas.
Karena itu, membakar jerami tidak bisa dianggap sebagai aktivitas tanpa risiko. Kelalaian kecil dapat berujung pada kebakaran yang merusak lahan, mengancam bangunan di sekitarnya, dan mengganggu aktivitas masyarakat.
3. Mengurangi Unsur Hara yang Bisa Menyuburkan tanah
Jerami sebenarnya masih menyimpan potensi untuk mendukung kesuburan tanah. Sisa tanaman padi ini mengandung unsur hara yang dapat dikembalikan ke lahan apabila dikelola dengan tepat.
Pembakaran dapat menghilangkan sebagian unsur hara, terutama yang mudah menguap selama proses pembakaran. Akibatnya, potensi jerami sebagai sumber bahan organik dan pendukung kesuburan tanah tidak dimanfaatkan secara optimal.
Sebaliknya, jerami yang diolah menjadi kompos dapat membantu menambah bahan organik tanah dan mendukung pengelolaan lahan pertanian yang lebih berkelanjutan.
4. Menambah Polusi Udara dan Emisi Gas Rumah Kaca
Pembakaran jerami menghasilkan emisi berupa karbon dioksida, karbon monoksida, partikel halus, dan senyawa lain yang terbentuk selama pembakaran. Emisi tersebut dapat memperburuk kualitas udara dan berkontribusi terhadap persoalan lingkungan.
Apabila pembakaran sisa panen dilakukan secara luas atau berulang, asap yang dihasilkan dapat menambah beban pencemaran udara, terutama ketika kondisi cuaca membuat polutan sulit menyebar.
5. Berpotensi Menimbulkan Masalah Hukum
Membakar jerami di area persawahan perlu dibedakan dari tindakan membuka lahan dengan cara membakar. Ketentuan hukum terkait pembakaran lahan harus diperhatikan, terlebih apabila api menimbulkan kebakaran, kerusakan, atau membahayakan orang lain.
Pemerintah telah menegaskan larangan pembukaan lahan dengan cara membakar. Konsekuensi hukum bergantung pada perbuatan, lokasi, akibat yang ditimbulkan, serta ketentuan yang berlaku. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menganggap semua aktivitas pembakaran lahan bebas dari risiko hukum.
Cara Mengelola Jerami Tanpa Dibakar
Untuk mengurangi risiko kebakaran sekaligus memanfaatkan sisa panen, petani dapat memilih beberapa alternatif berikut:
- Mengolah jerami menjadi kompos. Jerami dicacah dan dibiarkan melalui proses penguraian agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan organik.
- Mengembalikan jerami ke lahan. Dengan pengelolaan yang sesuai, jerami dapat membantu memperbaiki kandungan bahan organik tanah.
- Memanfaatkannya sebagai pakan ternak. Jerami dapat diolah terlebih dahulu agar lebih sesuai untuk kebutuhan pakan.
- Menggunakan alat mekanis. Pada lahan yang luas, peralatan pertanian dapat membantu membersihkan dan mengelola sisa tanaman tanpa pembakaran.
- Meminta pendampingan penyuluh pertanian. Petani dapat berkonsultasi untuk menentukan metode pengolahan jerami yang sesuai dengan kondisi lahan dan pola tanam.
Membakar jerami setelah panen memang terlihat praktis, tetapi risikonya tidak bisa diabaikan. Asap dapat mengganggu pernapasan dan jarak pandang, api berpotensi menjalar ke lahan lain, sementara unsur hara yang terkandung dalam jerami tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Petani disarankan mengutamakan pengolahan jerami menjadi kompos, pemanfaatan sebagai pakan ternak, atau metode mekanis yang sesuai dengan kondisi lahan. Dengan pengelolaan yang lebih aman, sisa panen tidak hanya menjadi limbah, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi pertanian dan lingkungan.