Desa Hantu Cicadas Kembali Dibuka, Wisata Horor Rp3.000 Ini Ramai Pengunjung dan Dongkrak UMKM

Desa Hantu Cicadas Kembali Dibuka, Wisata Horor Rp3.000 Ini Ramai Pengunjung dan Dongkrak UMKM Desa Hantu Cicadas Bandung Ramai Dikunjungi, Wisata Horor Kreatif yang Angkat UMKM Lokal. (Bandung.go.id)

TERASBANDUNG.COM – Gang-gang permukiman di RT 05 RW 06, Kelurahan Cicadas, Kecamatan Cibeunying Kidul, berubah total menjadi kawasan bernuansa mencekam.

Selama tiga hari, mulai 31 Juli hingga 2 Agustus 2026, warga menghadirkan Desa Hantu, sebuah destinasi wisata tematik yang memadukan suasana horor dengan nuansa pedesaan.

Memasuki tahun ketiga penyelenggaraan, Desa Hantu tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di lingkungan sekitar.

Camat Cibeunying Kidul, Moch Edi Purwadi, mengapresiasi inisiatif para pemuda yang mampu menghadirkan kegiatan kreatif sekaligus memberdayakan masyarakat.

Baca Juga : DPRD Kota Bandung Setujui Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025, Farhan Tegaskan Komitmen Tingkatkan Kinerja

"Ini merupakan kreativitas luar biasa dari para pemuda. Selain menghadirkan hiburan yang unik, kegiatan ini juga mampu mengundang pelaku UMKM di wilayah RW 06 dan sekitarnya untuk ikut berkembang. Saya berharap Desa Hantu dapat terus berlanjut serta semakin berkembang," ujarnya dilansir dari siaran pers Humas Kota Bandung.

Berawal dari Ide Sederhana, Kini Jadi Destinasi Favorit

Desa Hantu pertama kali digelar pada 2024. Gagasan tersebut muncul dari sekelompok pemuda yang ingin mengumpulkan dana untuk menyambut peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia.

Alih-alih membuat rumah hantu seperti pada umumnya, mereka mengembangkan konsep yang lebih besar dengan mengubah satu kawasan permukiman menjadi desa bertema horor. Sejak saat itu, kegiatan terus berkembang berkat keterlibatan warga, Karang Taruna, komunitas, hingga pelaku UMKM.

Ketua Panitia Desa Hantu 2026, Adi, mengatakan konsep tersebut sengaja dibuat berbeda agar memberikan pengalaman baru bagi pengunjung.

Baca Juga : Jadwal Semifinal Piala Presiden 2026: Persib vs Persija dan Persebaya vs Arema FC, Ini Jam Tayangnya

"Awalnya kami hanya berkumpul untuk mencari dana kegiatan Agustusan. Karena sudah banyak konsep rumah hantu, kami akhirnya membuat konsep Desa Hantu yang melibatkan seluruh warga. Alhamdulillah, setiap tahun kegiatan ini terus berkembang, dari satu gang menjadi tiga gang, dan UMKM yang terlibat juga semakin banyak," tutur Adi.

Ribuan Pengunjung Berpotensi Datang, UMKM Ikut Tumbuh

Antusiasme masyarakat terhadap Desa Hantu terus meningkat dari tahun ke tahun. Pengunjung tidak hanya berasal dari berbagai wilayah di Kota Bandung, tetapi juga datang dari luar daerah.

Dengan tiket masuk hanya Rp3.000, destinasi ini menjadi hiburan yang terjangkau sekaligus memberikan peluang usaha bagi warga sekitar melalui penjualan makanan, minuman, hingga produk lainnya.

Ketua RW 06, Ramli, berharap Desa Hantu dapat terus berkembang menjadi identitas baru Kelurahan Cicadas sekaligus menjadi ruang kreativitas bagi generasi muda.

Baca Juga : Semester I 2026, 37.367 Wisatawan Mancanegara Pilih Kereta Api di Wilayah KAI Daop 2 Bandung

"Kami berharap Desa Hantu ini tetap menjadi pelopor di Kelurahan Cicadas. Keunikannya adalah seluruh konsep dipusatkan dalam satu kawasan dengan nuansa pedesaan. Semoga kegiatan ini terus berlanjut dan dapat diregenerasikan kepada generasi muda agar inovasi seperti ini tidak berhenti di kami saja," kata Ramli.

Pengunjung Terus Bertambah, Kolaborasi Mulai Terbuka

Ketua RT 05, Aang, mengungkapkan peningkatan jumlah pengunjung setiap tahun membawa dampak nyata terhadap perekonomian warga.

"Alhamdulillah, dari tahun ke tahun jumlah pengunjung terus meningkat, sekitar 400 sampai 500 orang per hari. Dampaknya terasa bagi warga, bahkan kegiatan ini sudah beberapa kali dikunjungi anggota DPRD dan kini ada rencana kolaborasi dengan Saung Angklung Udjo," ungkap Aang.

Semangat gotong royong menjadi kunci keberhasilan penyelenggaraan Desa Hantu Cicadas. Berkat kolaborasi seluruh elemen masyarakat, kawasan ini berhasil berkembang menjadi wisata berbasis komunitas yang tidak hanya menawarkan sensasi berbeda bagi pengunjung, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga.

Ke depan, Desa Hantu diharapkan terus tumbuh sebagai salah satu destinasi wisata kreatif di Kota Bandung sekaligus menjadi contoh bagaimana inovasi masyarakat mampu menghadirkan hiburan, memperkuat kebersamaan, dan meningkatkan kesejahteraan lingkungan sekitar.***

Penulis: Tim Teras Bandung | Editor: Dadi Mulyanto

Berita Terkini