Kolaborasi ITB dan Komunitas Masagi Cibogo Ubah Limbah Botol PET Menjadi Produk Kreatif 3D Printing

Kolaborasi ITB dan Komunitas Masagi Cibogo Ubah Limbah Botol PET Menjadi Produk Kreatif 3D Printing ITB dan Komunitas Masagi Cibogo mengolah limbah botol PET menjadi filamen 3D printing untuk menghasilkan produk kreatif bernilai ekonomi di Bandung. (Ist)

TERASBANDUNG.COM - Kota Bandung saat ini tengah menghadapi tantangan kritis dalam pengelolaan tata ruang dan lingkungan perkotaan.

Setiap harinya, produksi sampah harian kota mencapai angka sekitar 1.379 ton per hari, di mana sekitar 249 ton atau 17% di antaranya merupakan sampah plastik. Tumpukan sampah ini berpotensi besar membebani kapasitas ruang kota serta tempat pembuangan akhir (TPA).

Sebagai upaya nyata mengatasi persoalan tata kelola sampah perkotaan, Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Komunitas Masagi Tjibogo menggelar "Workshop Daur Ulang Limbah Botol Plastik: Dari Sampah Menjadi Produk Kreatif" pada Sabtu (22,08/2026) di markas komunitas di RW 04, Kelurahan Sukawarna, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung.

Program Pengabdian Masyarakat Bottom-Up Topik Khusus Sampah Tahun 2026 ini berhasil menyulap botol Polyethylene Terephthalate (PET) menjadi filamen pencetak tiga dimensi (3D).

Proyek pengabdian ini dilaksanakan oleh Yogie Candra Bhumi, S.Ds., M.Ds. sebagai ketua dan Dr. Kukuh Rizki Satriaji, S.Ds., M.T. sebagai anggota, keduanya adalah dosen dari Kelompok Keahlian Manusia dan Ruang Interior ITB.

Kegiatan ini turut mendapat dukungan dari Arnold Maximillian, M.Ds., Dosen Desain Interior Universitas Kristen Maranatha, serta melibatkan total 16 mahasiswa S1, S2 dan S3 dari ITB.

Pelaksanaan workshop dirancang melibatkan seluruh lapisan usia di Komunitas Masagi Cibogo dan RW 04 Sukawarna.

Kelompok dewasa dan remaja difokuskan pada pengenalan material, penggunaan alat bantu, hingga proses pengolahan botol PET menjadi filamen dan mencetaknya menjadi objek 3 dimensi.

Sementara itu kelompok anak-anak diajak melakukan eksplorasi secara praktis membuat aksesoris menggunakan pena 3D (3D pen) yang dikemas sebagai bagian dari kegiatan reguler "sakoling" (sekolah lingkungan).

Melalui Workshop ini, dilakukan proses transfer teknologi dan pengetahuan bahwa sebuah badan botol plastik dapat diubah menjadi ‘benang’ filamen. Benang filamen ini kemudian dijadikan bahan dasar utama untuk penerapan teknologi Additive Manufacturing atau 3D Printing.

Proses daur ulang ini melibatkan beberapa tahap, di antaranya:

⦁ Pembersihan: Proses pembersihan sampah botol bekas dilakukan sebagai langkah persiapan yang paling krusial.

⦁ Pengirisan (Slicing): Badan botol diiris menggunakan alat slicer untuk menghasilkan pita pipih panjang.

⦁ Pemanasan (Pultrusion): Pita pipih tersebut kemudian dimasukkan ke dalam mesin pultrusion dengan suhu panas rendah guna menghasilkan filamen dari botol bekas.

⦁ Pencetakan (3D Printing): Setelah badan botol berhasil diubah menjadi filamen, tahapan selanjutnya akan sangat bergantung pada desain produk kreatif yang diproduksi menggunakan mesin 3D Printer.

Dengan pengetahuan dan teknologi tersebut, limbah botol PET kini mampu dicetak menjadi berbagai produk kreatif baru yang memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi dari sebelumnya.

Menurut Yogie Candra Bhumi, PET memiliki karakteristik fisik unggul yang fleksibel, kuat dan tahan panas.

"Karakteristik itu harusnya ada di barang-barang yang justru value-nya tinggi. Jadi PET jenis plastik menurut saya pantas punya umur yang jauh lebih panjang daripada sekadar botol air mineral," jelas Yogie.

Beberapa contoh produk yang dihasilkan antara lain lampu meja, lampu gantung, coaster (tatakan) gelas, vas bunga, dan ragam produk kreatif fungsional lainnya.

Inisiatif pengolahan limbah plastik berbasis komunitas ini diharapkan dapat menjadi pilot project percontohan bagi daerah-daerah lain, serta membuktikan bahwa kolaborasi antara akademisi dan masyarakat mampu menghadirkan solusi teknologi tepat guna dalam mengatasi permasalahan lingkungan perkotaan.

Dian Nurdyana selaku ketua Komunitas Masagi Cibogo menegaskan bahwa kolaborasi dengan siapapun termasuk akademisi adalah kunci mutlak, "Semua persoalan tidak bisa diselesaikan sendiri, tidak ada superman di dunia ini, yang ada super team kita bangun ekosistem itu," tutupnya.***

Penulis: Ely Kurniawati | Editor: Dadi Mulyanto

Berita Terkini