TERASBANDUNG.COM - Jahe menjadi salah satu rempah yang cukup populer di Indonesia. Selain digunakan sebagai bumbu masakan, jahe sejak lama dimanfaatkan sebagai bahan minuman tradisional karena memberikan sensasi hangat sekaligus memiliki sejumlah senyawa bioaktif.
Di pasaran, masyarakat mengenal beberapa jenis jahe, termasuk jahe merah dan jahe putih atau jahe biasa. Keduanya sama-sama berasal dari kelompok Zingiber officinale, tetapi mempunyai perbedaan dari sisi warna, ukuran, rasa, aroma hingga komposisi senyawa tertentu.
Lantas, apa perbedaan khasiat jahe merah dan jahe biasa untuk kesehatan?
Jahe Merah dan Jahe Biasa, Apa Bedanya?
Secara fisik, jahe merah memiliki kulit dan bagian dalam rimpang berwarna kemerahan. Ukurannya cenderung lebih kecil dengan rasa yang lebih pedas dan kuat.
Sementara itu, jahe putih atau jahe biasa memiliki kulit berwarna kecokelatan dengan bagian dalam berwarna kuning pucat. Jenis ini lebih umum digunakan sebagai bumbu masakan sehari-hari.
Perbedaan rasa dan aroma tersebut berkaitan dengan kandungan senyawa aktif serta minyak atsiri di dalam masing-masing jenis jahe.
Kajian ilmiah mengenai jahe merah menunjukkan bahwa tanaman ini mengandung berbagai senyawa bioaktif, termasuk kelompok vanilloid, flavonoid, monoterpen dan seskuiterpen. Penelitian juga menemukan berbagai aktivitas biologis dari ekstrak jahe merah, meski sebagian bukti masih berasal dari penelitian laboratorium atau praklinis.
1. Sama-Sama Bisa Membantu Meredakan Mual
Salah satu manfaat jahe yang paling banyak diteliti adalah membantu mengurangi mual dan muntah.
NCCIH menyebut penelitian pada manusia menunjukkan jahe dapat membantu mengatasi mual dan muntah yang berkaitan dengan kehamilan. Bukti mengenai kondisi lain, seperti mual akibat kemoterapi atau setelah operasi, masih memiliki tingkat kepastian yang berbeda-beda.
Kajian yang diterbitkan pada 2024 juga menemukan jahe berpotensi membantu mengurangi mual dan muntah, termasuk pada pasien kemoterapi dan kondisi pascaoperasi. Namun, peneliti menilai kualitas sejumlah meta-analisis yang tersedia masih rendah sehingga penelitian lebih baik masih diperlukan.
Artinya, manfaat untuk meredakan mual bukan hanya milik jahe merah. Jahe secara umum memiliki potensi tersebut.
2. Jahe Merah Memiliki Rasa Lebih Pedas dan Kandungan Minyak Atsiri yang Menonjol
Salah satu alasan jahe merah sering dianggap lebih kuat adalah rasa pedas dan aromanya yang lebih tajam.
detikHealth mengutip data budidaya jahe yang menunjukkan kandungan minyak atsiri jahe merah berada pada kisaran 2,58–2,90 persen, sedangkan jahe gajah sekitar 0,82–1,66 persen. Namun, angka tersebut dapat dipengaruhi varietas, kondisi tanaman dan proses pengolahan.
Karena itu, jahe merah banyak digunakan dalam minuman herbal atau jamu. Sensasi hangat dan pedasnya membuat jahe merah terasa lebih kuat dibandingkan beberapa jenis jahe lainnya.
3. Sama-Sama memiliki Senyawa Antioksidan dan Antiinflamasi
Jahe mengandung senyawa seperti gingerol dan shogaol yang banyak diteliti karena aktivitas antioksidan dan antiinflamasinya.
Kajian mengenai konsumsi jahe pada manusia menemukan adanya potensi manfaat terhadap beberapa kondisi, termasuk peradangan, nyeri, gangguan metabolik dan masalah saluran pencernaan. Namun, hasil penelitian tidak selalu seragam dan kualitas bukti berbeda-beda berdasarkan kondisi yang diteliti.
Pada jahe merah, sebuah tinjauan ilmiah secara khusus mengidentifikasi berbagai senyawa bioaktif dan aktivitas biologis, termasuk aktivitas antiinflamasi dan antioksidan. Meski demikian, hasil penelitian tersebut tidak otomatis berarti jahe merah dapat digunakan sebagai pengobatan penyakit tertentu.
4. Membantu Menjaga Pencernaan
Jahe juga telah lama digunakan untuk membantu mengatasi berbagai keluhan pencernaan.
NCCIH mencatat jahe secara tradisional digunakan untuk berbagai keluhan gastrointestinal. Sejumlah penelitian pada manusia juga menunjukkan potensi jahe dalam membantu gejala tertentu, terutama mual.
Kompas juga merangkum sejumlah penelitian yang mengaitkan konsumsi jahe dengan pencernaan, mual dan berbagai manfaat metabolik. Namun, manfaat tersebut tidak berarti jahe dapat menggantikan pengobatan medis ketika seseorang mengalami penyakit pencernaan.
5. Berpotensi Membantu Mengurangi Nyeri
Jahe juga banyak diteliti sebagai bahan pendamping untuk mengurangi nyeri.
Sebuah meta-analisis terhadap uji klinis pada penderita osteoarthritis menemukan konsumsi jahe berkaitan dengan penurunan nyeri dan gangguan fungsi, meskipun besarnya manfaat relatif modest dan penelitian memiliki keterbatasan.
Namun, kajian lain menemukan bukti mengenai penggunaan jahe untuk osteoarthritis masih belum konsisten. NCCIH juga menyebut suplemen jahe mungkin membantu gejala osteoarthritis lutut, tetapi sebagian penelitian memiliki kualitas yang kurang baik.
Jadi, jahe merah maupun jahe biasa tidak seharusnya dianggap sebagai pengganti obat pereda nyeri atau terapi dokter.
6. Bagaimana dengan Gula Darah dan Kolesterol?
Beberapa penelitian terhadap jahe menunjukkan potensi manfaat pada parameter metabolik, termasuk gula darah dan profil lemak darah.
Sebuah umbrella review yang mengumpulkan berbagai systematic review melaporkan adanya bukti manfaat konsumsi jahe terhadap sejumlah parameter kesehatan, termasuk kontrol gula darah dan beberapa faktor risiko kardiometabolik. Namun, tingkat kepastian bukti berbeda-beda dan penelitian dengan standar lebih tinggi masih diperlukan.
Kompas juga merangkum penelitian yang menemukan potensi jahe dalam membantu pengendalian gula darah serta menurunkan trigliserida dan kolesterol LDL.
Penting dicatat, mengonsumsi jahe tidak berarti seseorang dapat menghentikan obat diabetes atau kolesterol yang diresepkan dokter.
Jadi, Mana yang Lebih Berkhasiat: Jahe Merah atau Jahe Biasa?
Jawabannya tidak sesederhana memilih salah satu sebagai yang "paling sehat".
Jahe merah cenderung memiliki rasa lebih pedas dan kandungan minyak atsiri yang menonjol, sehingga sering digunakan dalam jamu dan minuman herbal. Sementara itu, jahe biasa juga memiliki senyawa bioaktif seperti gingerol dan telah diteliti untuk berbagai manfaat kesehatan.
Dengan kata lain, keduanya memiliki manfaat yang tumpang tindih. Sampai saat ini, bukti klinis yang kuat untuk menyatakan jahe merah secara umum jauh lebih unggul daripada jahe biasa untuk semua kondisi kesehatan masih terbatas.
Bahkan, sebagian besar penelitian klinis mengenai manfaat jahe menggunakan produk atau suplemen jahe secara umum, bukan secara khusus membandingkan jahe merah dengan jahe biasa.
Cara Mengonsumsi Jahe yang Lebih Sederhana
Jahe dapat dikonsumsi sebagai bagian dari makanan atau minuman sehari-hari.
Beberapa pilihan yang umum antara lain:
Untuk konsumsi sehari-hari, tidak perlu membuat minuman jahe terlalu manis. Penambahan gula dalam jumlah banyak justru dapat mengurangi manfaat pola konsumsi sehat secara keseluruhan.
Jangan Berlebihan, jahe Juga Bisa Menimbulkan Efek Samping
Meski umumnya aman dikonsumsi, jahe bukan berarti bebas dari efek samping.
NCCIH mencatat konsumsi jahe secara oral dapat menyebabkan keluhan seperti rasa tidak nyaman pada perut, mulas, diare serta iritasi pada mulut dan tenggorokan. Orang yang sedang mengonsumsi obat juga disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menggunakan jahe sebagai suplemen karena dapat terjadi interaksi dengan obat tertentu.
Hal ini terutama perlu diperhatikan jika jahe dikonsumsi dalam bentuk suplemen atau ekstrak dengan dosis tinggi, bukan sekadar digunakan sebagai bumbu masakan.
Jahe merah dan jahe biasa sama-sama memiliki potensi manfaat untuk kesehatan. Keduanya mengandung senyawa bioaktif yang berkaitan dengan aktivitas antioksidan dan antiinflamasi serta telah diteliti untuk membantu mual, nyeri dan beberapa kondisi metabolik.
Perbedaan utamanya terletak pada karakteristik fisik, rasa, aroma dan komposisi senyawa tertentu. Jahe merah memiliki rasa yang lebih pedas dan kandungan minyak atsiri yang menonjol sehingga populer sebagai bahan minuman herbal.
Namun, belum ada dasar kuat untuk menyebut jahe merah selalu lebih berkhasiat daripada jahe biasa untuk semua kondisi kesehatan. Yang paling penting adalah mengonsumsinya secara wajar dan tidak menjadikan jahe sebagai pengganti pengobatan medis.
Penulis: Ginevara | Editor: Ginevara