Bandung Makin Hareudang, BMKG Ungkap Suhu Tembus 35 Derajat Celsius dan Ancaman yang Mengintai

Bandung Makin Hareudang, BMKG Ungkap Suhu Tembus 35 Derajat Celsius dan Ancaman yang Mengintai Jalan Layang Pasteur-Surapati (Pasupati) di Kota Bandung, yang kini berganti nama menjadi Jalan Prof Mochtar Kusumaatmadja. (Daddy Mulyanto/TERASBANDUNG.COM)

TERASBANDUNG.COM - Cuaca panas yang belakangan dirasakan warga Kota Bandung dan wilayah sekitarnya ternyata sejalan dengan catatan peningkatan suhu udara.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung mencatat suhu maksimum di Kota Bandung mencapai 35 derajat Celsius pada pertengahan Oktober 2026.

Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi, Asri Rachmawati, menjelaskan bahwa sejumlah daerah di Jawa Barat mengalami tren kenaikan suhu selama sepekan terakhir. Kondisi tersebut membuat udara terasa lebih panas dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Berdasarkan catatan yang disampaikan Asri, suhu maksimum di Bandung pada 8 Oktober mencapai 31,4 derajat Celsius, kemudian turun menjadi 30,4 derajat Celsius pada 9 Oktober.

Baca Juga : 21 Orang Positif Narkoba di Saritem, DPRD Bandung Soroti Dugaan Prostitusi yang Masih Berlangsung

Memasuki 10 Oktober, suhu kembali meningkat hingga 32 derajat Celsius. Kenaikan berlanjut pada 11 Oktober dengan suhu mencapai 34 derajat Celsius, sebelum tercatat 32,6 derajat Celsius pada 12 Oktober.

Suhu kembali melonjak pada hari-hari berikutnya. Asri menyampaikan bahwa kondisi tersebut sesuai dengan keluhan masyarakat yang merasakan cuaca Bandung semakin panas.

"Di tanggal 13 nya naik lagi jadi 3,3. Kemarin itu naiknya signifikan di 35,0. Jadi, benar yang dirasakan bahwa di Bandung rasanya lebih panas," kata dia kepada wartawan, Kamis (15/10/2026).

Asri menjelaskan, minimnya hujan selama periode tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung peningkatan suhu. Kondisi serupa juga terjadi di sebagian besar wilayah Jawa Barat.

Ketika tutupan awan berkurang, sinar matahari dapat mencapai permukaan bumi dengan lebih leluasa. Akibatnya, pemanasan permukaan berlangsung lebih intens dan suhu udara pada siang hari dapat meningkat.

Selain kondisi tutupan awan, posisi gerak semu Matahari yang berada di atas wilayah Jawa turut disebut sebagai faktor yang memengaruhi tingginya suhu. Asri juga menyinggung kondisi indeks ENSO yang berada pada kategori sangat kuat.

Warga Diimbau Waspadai Dehidrasi hingga Kebakaran Lahan

Cuaca panas dan kondisi kering tidak hanya berdampak pada kenyamanan masyarakat, tetapi juga berpotensi memicu sejumlah persoalan kesehatan dan lingkungan.

Salah satu risiko yang perlu diperhatikan adalah meningkatnya gangguan pernapasan akibat paparan debu. Udara kering dan kondisi lingkungan yang berdebu dapat memperburuk keluhan pernapasan, terutama bagi kelompok yang rentan.

Baca Juga : Viral Dugaan Pelecehan Seksual di FH Unpas Libatkan Oknum Dosen, Mahasiswa Tuntut Pengusutan

Masyarakat juga diminta menjaga kecukupan cairan tubuh untuk mengurangi risiko dehidrasi. Konsumsi air putih secara teratur menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan ketika beraktivitas di tengah cuaca panas.

Di sisi lain, kondisi lahan yang mengering dapat meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Karena itu, masyarakat perlu menghindari aktivitas yang berisiko memicu kebakaran, terutama di kawasan dengan vegetasi kering.

BMKG memperkirakan musim hujan mulai memasuki sejumlah wilayah pada November hingga Desember. Meski demikian, masyarakat tetap perlu mengikuti pembaruan prakiraan cuaca karena waktu kedatangan hujan dapat berbeda di setiap daerah.

Dengan suhu maksimum yang sempat mencapai 35 derajat Celsius, warga Bandung diimbau menjaga kondisi tubuh, membatasi paparan panas berlebihan, dan meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak cuaca kering.***

Penulis: Tim Teras Bandung | Editor: Dadi Mulyanto

Memuat Terkini...