Pawai Jampana meriahkan penutupan HJKB ke-216 Kota Bandung, menghadirkan kreativitas warga, tradisi lokal, dan hiburan yang disambut antusias masyarakat. (Ist)
TERASBANDUNG.COM - Tradisi dan kreativitas masyarakat menjadi daya tarik utama dalam penutupan Hari Jadi ke-216 Kota Bandung (HJKB).
Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menghadirkan Pawai Jampana sebagai alternatif perayaan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan ruang bagi warga untuk menampilkan potensi budaya dari wilayahnya masing-masing.
Karnaval yang melintasi Jalan Diponegoro hingga Jalan Merdeka sebelum memasuki kawasan Balai Kota Bandung itu disambut antusias masyarakat. Warga memadati sepanjang rute untuk menyaksikan beragam penampilan yang menjadi bagian dari kemeriahan penutupan HJKB.
Suasana semakin semarak ketika sejumlah pengisi acara, di antaranya Ega Robot, Kuburan Band, dan Bungsu Bandung, tampil menghibur masyarakat di Balai Kota Bandung.
Berbeda dengan perayaan sebelumnya yang identik dengan mobil hias dan konsep City of Light pada malam hari, tahun ini Pemkot Bandung mengangkat tradisi arak-arakan Jampana.
Baca Juga : DPRD Kota Bandung Dorong Pembaruan Perda Pengelolaan Barang Milik Daerah
Konsep tersebut dipilih untuk menghadirkan pesta rakyat yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat sekaligus mempertahankan nilai-nilai budaya lokal.
Menghidupkan Tradisi Lewat Kreativitas Masyarakat
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menjelaskan bahwa Pawai Jampana dirancang sebagai perayaan yang sederhana, tetapi tetap memiliki daya tarik dan makna bagi masyarakat.
Jampana merupakan tandu hias yang dipanggul oleh empat hingga enam orang. Setiap kelompok menghadirkan ornamen dengan bentuk dan tema berbeda sesuai kreativitas masing-masing.
Keunikan tradisi ini juga terlihat dari berbagai makanan yang ditempatkan di dalam tandu untuk dibagikan kepada warga selama arak-arakan berlangsung.
“Jampana itu adalah arak-arakan yang dipanggul oleh empat sampai enam orang. Di dalamnya diisi berbagai macam makanan. Nanti sambil lewat, dia berhenti dan orang bisa mengambil makanannya,” kata Farhan.
Salah satu karya yang menarik perhatian dalam kegiatan tersebut adalah miniatur kereta api yang ditampilkan oleh Dinas Perhubungan. Beragam kreasi ini memperlihatkan bagaimana unsur tradisional dapat dikemas secara kreatif tanpa kehilangan identitas budayanya.
Baca Juga : 25 Kecamatan di Kabupaten Bandung Rawan Longsor, BPBD Keluarkan Peringatan Dini
Menurut Farhan, gagasan penyelenggaraan karnaval berangkat dari pengamatannya terhadap aktivitas masyarakat di tingkat kecamatan selama rangkaian HJKB. Pada 5–6 September, sehari setelah upacara peringatan hari jadi kota, ia melihat warga menunjukkan antusiasme dalam memperkenalkan potensi dan kreativitas daerah masing-masing.
Pengalaman itu kemudian menjadi pertimbangan bagi Pemkot Bandung untuk menghadirkan kegiatan yang membuka kesempatan lebih luas bagi masyarakat agar terlibat langsung dalam perayaan kota.
Libatkan Kecamatan dan Institusi Pendidikan
Pawai Jampana tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga wadah kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan institusi pendidikan.
Pemkot Bandung melibatkan sejumlah institusi, di antaranya Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Taruna Nusantara. Keterlibatan berbagai pihak tersebut diharapkan dapat memperkaya penampilan sekaligus memperluas partisipasi dalam perayaan HJKB.
Dari 30 kecamatan di Kota Bandung, pemerintah melakukan kurasi untuk menentukan penampilan yang akan ditampilkan dalam karnaval. Proses tersebut dilakukan agar kreativitas yang dihadirkan tetap sesuai dengan konsep acara dan mencerminkan keberagaman karakter masyarakat Bandung.
Farhan menegaskan bahwa penyelenggaraan kegiatan ini berangkat dari inisiatif masyarakat, bukan semata-mata gagasan yang ditentukan dari tingkat pemerintah.
“Ini yang ingin kita tunjukkan, segala sesuatu harus terinspirasi dari prinsip bottom-up, dari bawah,” ujarnya.
Semangat tersebut juga tercermin dari penampilan warga Kecamatan Mandalajati yang mengangkat nuansa budaya Tionghoa melalui busana berwarna merah.
Identitas budaya tersebut ditampilkan berdampingan dengan karakter masyarakat setempat, termasuk penggunaan hijab oleh para perempuan peserta.
“Mandalajati itu semuanya bergaya China. Bajunya merah semua, tapi perempuannya semua pakai hijab,” tuntasnya.***
Penulis: Ely Kurniawati | Editor: Dadi Mulyanto