Ilustrasi. Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menyiapkan 7 puskesmas yang akan buka 24 jam Selama perayaan Idulfitri 1445 Hijriah. (Bandung.go.id)
TERASBANDUNG.COM - Pemerintah Kota Bandung mulai memperkuat layanan kesehatan mental dengan menghadirkan pelayanan psikologi klinis di 12 puskesmas yang tersebar di berbagai wilayah kota.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan langkah tersebut dilakukan sebagai respons terhadap meningkatnya persoalan kesehatan mental di masyarakat, termasuk pada kalangan usia muda dan anak sekolah.
“Di setiap UPTD atau puskesmas ini ada pelayanan psikologi klinis untuk konseling. Saat ini sudah ada di 12 puskesmas di Kota Bandung,” kata Farhan di Bandung, Rabu, 13 Mei 2026.
Baca Juga : KAI Daop 2 Bandung Jalankan 2 KA Tambahan Selama Libur Panjang Akhir Pekan Ini
Menurut Farhan, program ini merupakan tindak lanjut dari aturan Kementerian Kesehatan melalui Permenkes Nomor 19 Tahun 2024 yang mengatur keberadaan tenaga psikologi klinis di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Sebanyak 12 puskesmas yang telah menyediakan layanan tersebut meliputi Puskesmas Babakan Sari, Garuda, Cibuntu, Cipamokolan, Kopo, Puter, Padasuka, Ibrahim Adjie, Sukarasa, Pasirkaliki, Salam, dan Cipadung.
Setiap fasilitas kesehatan nantinya akan diperkuat oleh satu psikolog klinis yang melayani konsultasi masyarakat pada hari kerja. Dalam sehari, layanan tersebut ditargetkan mampu menangani hingga 10 pasien.
Farhan menilai kebutuhan layanan kesehatan mental di Kota Bandung saat ini semakin mendesak. Ia mengungkapkan kasus stres hingga tekanan psikologis kini banyak ditemukan pada usia produktif bahkan anak sekolah dasar.
“Salah satu indikator yang menakutkan buat saya adalah percobaan bunuh diri di Kota Bandung, tiap hari ada saja beritanya. Ini harus dicegah dengan sangat serius,” ujarnya.
Baca Juga : Bandung Perkuat Posisi sebagai Kota Kreatif Lewat Transformasi Digital
Ia menambahkan, penunjukan 12 puskesmas sebagai tahap awal pelaksanaan program bukan berdasarkan jumlah penduduk, melainkan kesiapan fasilitas dan sumber daya yang tersedia.
Menurut Farhan, layanan psikologi klinis membutuhkan ruang khusus dengan tingkat privasi tinggi agar masyarakat dapat berkonsultasi secara aman dan nyaman.
“Pertimbangan utamanya adalah kesiapan ruang. Untuk psikologi klinis ini tidak boleh sembarangan, privasinya harus sangat kuat,” kata dia.****