TERASBANDUNG.COM – Kota Bandung kembali menjadi pusat perhatian dunia melalui penyelenggaraan Festival Asia Afrika 2026 yang berlangsung pada 10–12 Juli.

Tahun ini, festival tidak hanya menyuguhkan atraksi budaya, tetapi juga membawa misi memperkuat diplomasi internasional melalui budaya, kopi, serta semangat inklusivitas yang menjadi bagian dari nilai-nilai Konferensi Asia Afrika.

Rangkaian kegiatan diawali pada Jumat dengan pelaksanaan simposium lanjutan yang membahas upaya pengusulan Jalan Asia Afrika sebagai Warisan Dunia UNESCO.

Agenda tersebut menjadi salah satu langkah strategis Pemerintah Kota Bandung dalam memperkuat nilai sejarah kawasan yang menjadi saksi lahirnya Konferensi Asia Afrika tahun 1955.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menjelaskan bahwa pemerintah daerah saat ini sedang menuntaskan seluruh dokumen yang menjadi persyaratan sebelum diajukan kepada Kementerian Kebudayaan pada September mendatang, kemudian diteruskan ke UNESCO.

Baca Juga : Dorong Talenta Muda Kreatif, BINUS @Bandung Buka Program Beasiswa hingga 100 Persen

"Prosesnya memang tidak bisa sebentar. Sekarang kami sedang menyiapkan seluruh dokumen pendaftaran agar Jalan Asia Afrika dapat didaftarkan sebagai warisan dunia UNESCO," ujarnya, pada Rabu, 8 Juli 2026.

Pada malam harinya, Pemerintah Kota Bandung juga menjadwalkan jamuan resmi bersama sekitar 25 duta besar dari negara-negara Asia dan Afrika. Momentum tersebut akan dimanfaatkan untuk memperkenalkan kekayaan kopi khas Bandung Raya sebagai bagian dari diplomasi budaya.

Berbagai pelaku usaha kopi lokal akan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, termasuk menghadirkan Kopi Aroma, yang selama ini dikenal sebagai salah satu kopi legendaris asal Bandung.

Memasuki Sabtu, 11 Juli, festival diawali dengan kegiatan History Walk yang mengambil rute dari Hotel Savoy Homann menuju Gedung Merdeka. Sebelum peserta memulai pawai budaya, mereka akan mendapatkan pemaparan mengenai pentingnya membangun masyarakat yang inklusif dari aktivis disabilitas dan lansia, Farhan Helmy.

"Semangat yang ingin kami hadirkan adalah bahwa Asia Afrika juga berbicara mengenai inklusivitas," katanya.

Baca Juga : Menko PMK Pratikno Tinjau Produk Unggulan PTDI pada Hari Pertama Pameran IISAR 2026

Setelah itu, Festival Asia Afrika berlanjut dengan berbagai kegiatan, mulai dari pertunjukan seni, seminar, bazar, hingga agenda internasional yang menghadirkan presentasi Duta Besar Palestina untuk Indonesia.

Sekitar 30 kelompok dijadwalkan mengikuti pawai budaya yang dimulai pukul 08.00 WIB. Festival juga akan diramaikan delegasi seni dari Malaysia yang tidak hanya menampilkan pertunjukan budaya, tetapi juga menjalin komunikasi untuk membuka peluang kerja sama dengan Pemerintah Kota Bandung.

Meski penyelenggaraan tahun ini dilakukan dengan konsep yang lebih sederhana sebagai dampak penyesuaian anggaran, Farhan memastikan kualitas acara tetap menjadi prioritas. Menurutnya, pelibatan komunitas seni dan para pelaku budaya lokal menjadi kekuatan utama Festival Asia Afrika 2026.

"Yang penting semangat Festival Asia Afrika tetap hidup. Pengisi acaranya lebih banyak anak-anak Bandung," ujarnya.

Melalui rangkaian agenda tersebut, Festival Asia Afrika 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang hiburan dan pelestarian budaya, tetapi juga memperkuat posisi Bandung sebagai kota bersejarah yang terus membangun diplomasi internasasional melalui kebudayaan, kolaborasi, dan keberagaman.***