Wali Kota Bandung Muhammad Farhan Tegaskan Larangan BABS, 66 Rumah di Cikawao Jadi Fokus Penanganan Sanitasi. (Bandung.go.id)
TERASBANDUNG.COM - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan komitmennya untuk menghentikan praktik buang air besar sembarangan (BABS) di seluruh wilayah Kota Bandung.
Penegasan itu disampaikan saat kegiatan Siskamling Siaga Bencana di Kelurahan Cikawao, Selasa 13 Januari 2026.
Di lokasi tersebut, Farhan menerima laporan bahwa puluhan rumah di bantaran sungai masih membuang limbah langsung ke aliran air karena tidak memiliki septic tank maupun akses saluran riol.
Berdasarkan pendataan pengurus wilayah, terdapat 66 rumah di RT 7 RW 02 yang masuk dalam kategori tersebut.
“Tidak boleh ada lagi yang namanya terjun bebas ke sungai. Kenapa? Karena Kota Bandung ini sebetulnya sudah mendapatkan predikat bebas dari BABS buang air besar sembarangan. Kalau ke sungai terjun bebas itu masih sembarangan,” ujar Farhan.
Survei Lapangan Jadi Langkah Awal Solusi
Menindaklanjuti temuan itu, Farhan tidak ingin persoalan berhenti di forum diskusi. Ia langsung menginstruksikan perangkat daerah terkait untuk turun ke lapangan bersama pengurus wilayah guna memetakan solusi yang paling memungkinkan diterapkan.
“Selesai rapat, langsung survei sama Pak RW. Cari tahu caranya kita harus membangunkan septic tank untuk warga yang belum punya septic tank dan tidak punya akses ke riol,” ujarnya.
Menurut Farhan, kondisi permukiman padat membuat pembangunan jaringan riol baru hampir mustahil dilakukan. Oleh karena itu, opsi yang realistis adalah penyediaan septic tank, baik secara individual maupun komunal, disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat.
Baca Juga : Wali Kota Bandung Sampaikan Duka atas Kecelakaan Fatal Usai Laga Persib vs Persija
“Caranya bagaimana? Septic tank. Karena membangun riol sudah enggak mungkin. PDAM juga sudah enggak mungkin nambah riol baru,” kata Farhan.
Sanitasi, Kesehatan, dan Ancaman Stunting
Farhan menekankan bahwa isu sanitasi tidak bisa dipisahkan dari persoalan kesehatan masyarakat. Praktik BABS, terutama di wilayah padat, dinilainya berkontribusi besar terhadap tingginya kasus diare yang berisiko memicu stunting pada anak.
“Salah satu bentuk yang paling menantang dari fakta tentang BABS adalah masih tingginya angka diare di Kota Bandung. Diare bukan cuma mencret. Apalagi yang balita, maka risiko dia terkena stunting itu tinggi,” jelasnya.
Baca Juga : DEFEND ID Tetapkan Strategi Operasional 2026, Perkuat Daya Saing Industri Pertahanan
Selain itu, Farhan juga menyinggung keterbatasan layanan air bersih di Kota Bandung. Hingga kini, cakupan layanan PDAM baru menjangkau sekitar 38 persen wilayah, dengan tantangan kebocoran jaringan dan keterbatasan sumber air baku.
“PDAM Kota Bandung itu memang baru bisa meng-cover 38 persen wilayah pelayanan. Tantangannya memang besar sekali,” ujarnya.
Meski begitu, Farhan memastikan Pemkot Bandung tidak akan berhenti mencari solusi jangka panjang, termasuk melalui kerja sama penyediaan air baku dan peningkatan kualitas lingkungan permukiman.
“Kita survei dulu, lihat apa yang bisa kita lakukan. Karena ini berhubungan langsung dengan penyehatan lingkungan,” tuturnya.
Penulis: Ely Kurniawati | Editor: Dadi Mulyanto