Bandung Kembali Jadi Kota Termacet 2025, Pemkot Siapkan Solusi AI dan Transportasi Publik

Bandung Kembali Jadi Kota Termacet 2025, Pemkot Siapkan Solusi AI dan Transportasi Publik Kota Bandung kembali dinobatkan sebagai kota termacet di Indonesia 2025. (TB)

TERASBANDUNG.COM - Predikat kota termacet di Indonesia kembali melekat pada Kota Bandung. Berdasarkan hasil survei TomTom Traffic Index tahun 2025, tingkat kemacetan di ibu kota Jawa Barat itu tercatat mencapai 64,10 persen.

Waktu tempuh perjalanan sejauh 10 kilometer pun rata-rata membutuhkan 32 menit 26 detik.

Hasil tersebut menjadi sorotan serius Pemerintah Kota Bandung. Wali Kota Bandung, M Farhan, menilai data tersebut sebagai sinyal kuat bahwa persoalan lalu lintas di Bandung masih membutuhkan pembenahan menyeluruh dan berkelanjutan.

"Untuk kita menunjukkan bahwa penanganan masalah lalu lintas di Kota Bandung ini masih memang belum tuntas," kata Farhan, Jumat (23/1/2026).

Infrastruktur dan Teknologi Jadi Fokus Utama

Farhan menjelaskan, langkah awal yang tengah dilakukan pemerintah kota adalah memperbaiki kondisi infrastruktur jalan secara menyeluruh.

Selain itu, sistem pengaturan lalu lintas juga menjadi perhatian utama, terutama optimalisasi dan penyempurnaan traffic lights di berbagai titik kota.

Menurutnya, pendekatan konvensional sudah tidak cukup untuk menjawab kompleksitas pergerakan kendaraan di Bandung. Oleh karena itu, penerapan teknologi berbasis kecerdasan buatan dinilai menjadi kebutuhan mendesak.

"Kita sudah saatnya mengaplikasikan teknologi AI untuk pengaturan dari traffic lights di seluruh Kota Bandung," kata dia.

Transportasi Publik dan Integrasi Moda

Di luar penanganan teknis jalan, Farhan juga menyoroti pentingnya penguatan transportasi publik sebagai solusi jangka menengah dan panjang.

Ia mengungkapkan, dalam waktu dekat pihaknya akan menggelar rapat dengan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat untuk membahas pengembangan Trans Metro Padjajaran.

Tak hanya itu, keberadaan angkutan kota (angkot) di Bandung juga akan dievaluasi. Pemerintah kota berencana mengkaji ulang trayek angkot agar dapat berfungsi sebagai feeder yang terintegrasi dengan sistem Bus Rapid Transit (BRT).

Selain transportasi jalan, Pemkot Bandung juga membuka opsi pengembangan transportasi berbasis rel. Saat ini, komunikasi tengah dilakukan dengan Direktorat Jenderal Perkeretaapian terkait rencana pembangunan LRT jalur utara–selatan, sementara BRT direncanakan melayani koridor timur–barat.

Farhan berharap seluruh rencana tersebut dapat berjalan selaras sehingga mampu menekan tingkat kemacetan dan memperbaiki kualitas mobilitas warga Bandung secara bertahap.***

Penulis: Ely Kurniawati | Editor: Dadi Mulyanto

Berita Terkini