Walhi ungkap penyebab banjir Derwati Bandung akibat kerusakan lingkungan dan tata ruang. (X)
TERASBANDUNG.COM - Banjir yang merendam kawasan Derwati, Gedebage, Kota Bandung, dinilai tidak hanya dipicu oleh meluapnya sungai.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat menyebut bencana ini merupakan dampak dari persoalan lingkungan yang lebih kompleks.
Tim Disaster Walhi Jabar, Aldi Maulana, menilai kegagalan tata ruang serta rusaknya ekosistem di wilayah hulu menjadi faktor utama yang memperparah kondisi banjir.
"Pemerintah tidak becus memitigasi alih fungsi lahan yang masif terjadi di kawasan hulu, sehingga hujan deras tidak tertampung baik oleh alam. Daerah aliran sungai mengalami over capacity dan timbul banjir," ungkap Aldi.
Kerusakan Ekologis Jadi Akar Masalah
Walhi mengidentifikasi sejumlah faktor penyebab, mulai dari alih fungsi lahan resapan menjadi kawasan permukiman hingga rusaknya ekosistem sungai seperti Sungai Citarik, Sungai Cipamulihan, dan Sungai Cinambo.
"Lemahnya konsistensi penegakan hukum tata ruang serta pelaksanaan pembangunan di kawasan budidaya dan konservasi untuk kepentingan komersial," lanjut Aldi.
Baca Juga : 13 Kecamatan Terdampak, Dadang Supriatna Ungkap Ancaman Cuaca Ekstrem Masih Mengintai
Kondisi ini diperparah oleh sistem drainase yang tidak optimal, serta kiriman air dari wilayah Sapan, Kabupaten Bandung, yang tidak tertampung dengan baik.
Mitigasi Dinilai Belum Maksimal
Walhi menilai respons pemerintah masih belum menyentuh akar persoalan. Banjir yang bertahan hingga lebih dari enam hari disebut sebagai indikator lemahnya sistem mitigasi.
"Dia [Farhan] mengakui bahwa kawasan permukiman lebih rendah dari tinggi muka sungai persoalan mendasar yang belum terpecahkan," sambungnya.
Aldi juga mengkritik pendekatan yang terlalu berfokus pada infrastruktur hilir seperti drainase dan pompa air, tanpa memperbaiki kondisi hulu.
"Anggaran infrastruktur terus mengalir, tapi akar persoalan ekologis, alih fungsi lahan hulu, rusaknya DAS, penyempitan sungai belum ditangani secara serius dan sistematis," tegas Aldi.
Rencana Pemkot Bandung dan Kondisi Terkini
Pemerintah Kota Bandung tengah menyiapkan solusi berupa pembangunan saluran air baru serta rumah pompa untuk mengurangi genangan di kawasan terdampak.
Wali Kota Muhammad Farhan menyebut proyek tersebut akan masuk dalam perencanaan anggaran mendatang.
Baca Juga : Dedi Mulyadi Dorong Perubahan Tata Ruang untuk Atasi Banjir di Kabupaten Bandung
“Perencanaan akan kita matangkan dalam beberapa minggu ke depan. Ini menjadi solusi jangka panjang agar genangan tidak terus berulang,” kata Farhan.
Berdasarkan data BPBD Jawa Barat, sebanyak 248 kepala keluarga terdampak banjir dengan puncak kejadian terjadi pada 13 April 2026 akibat hujan deras berkepanjangan.
Dedi Mulyadi Soroti Tata Ruang dan Alih Fungsi Lahan
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan perlunya langkah tegas untuk menghentikan alih fungsi lahan yang dinilai menjadi penyebab utama banjir di wilayah Bandung Raya.
"Satu, tata ruang Kabupaten Bandung diubah. Yang kedua, sungai-sungainya harus segera dinormalisasi. Yang ketiga, hulu sungainya harus direhabilitasi menjadi lahan hijau," ujarnya.
Ia juga menyoroti pembangunan masif di lahan produktif yang merusak keseimbangan lingkungan.
"Yang keempat, perubahan lahannya jangan terus terjadi. Sawah terus dibikin bangunan, perumahan, segala macam," katanya.
Solusi Jangka Panjang: Relokasi dan Pemulihan Hulu
Selain pembenahan tata ruang, Dedi menilai relokasi permukiman di bantaran sungai menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko banjir di masa depan.
"Kalau tidak dilakukan, itu tidak bersifat jangka panjang, tidak akan berhasil. Soalnya, berikutnya adalah rumah-rumah di bantaran sungainya harus dialihkan," ucap Dedi.
Ia mengingatkan, tanpa langkah tegas dan menyeluruh, banjir akan terus menjadi ancaman rutin di kawasan Bandung Raya setiap musim hujan.***
Penulis: Tim Teras Bandung | Editor: Dadi Mulyanto