TERASBANDUNG.COM - Gerakan Patungan untuk Hutan yang diinisiasi pegiat media sosial Ferry Irwandi mendapat respons besar dari masyarakat. Penggalangan dana yang dilakukan melalui Kitabisa tersebut dilaporkan telah menembus lebih dari Rp2,1 miliar.
Gerakan ini muncul di tengah perhatian publik terhadap kerusakan hutan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Ferry mengajak masyarakat tidak hanya membicarakan persoalan lingkungan di media sosial, tetapi ikut mengambil langkah nyata melalui pendanaan bersama.
Dalam unggahan di media sosialnya, Ferry memperlihatkan kondisi kawasan yang sebelumnya merupakan hutan lebat namun mengalami kerusakan akibat kebakaran, pembabatan, dan penebangan liar. Ia kemudian mengajak masyarakat mewujudkan gagasan patungan untuk menjaga hutan agar tidak terus mengalami kerusakan.
Donasi Patungan untuk Hutan Tembus Rp2,1 Miliar
Antusiasme masyarakat terhadap gerakan tersebut terbilang besar. Laporan terbaru pada Jumat (4/9/2026) menyebut dana yang terkumpul telah melampaui Rp2 miliar, sementara perkembangan yang dibagikan melalui media sosial menunjukkan jumlahnya sudah mencapai lebih dari Rp2,1 miliar.
Sebelumnya, penggalangan dana ini berkembang sangat cepat. Salah satu laporan menyebut dana mencapai sekitar Rp1 miliar hanya dalam waktu kurang lebih satu jam setelah gerakan dibuka.
Besarnya dukungan tersebut menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap persoalan perlindungan hutan, khususnya setelah berbagai pemberitaan mengenai karhutla di Kalimantan.
Tiga Fokus Utama Gerakan Patungan untuk Hutan
Dana yang dihimpun bukan hanya ditujukan untuk kegiatan pemadaman kebakaran. Gerakan Patungan untuk Hutan memiliki tiga fokus utama.
1. Mitigasi Kebakaran Hutan
Misi pertama adalah memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
Langkah mitigasi mencakup pencegahan, edukasi, pemantauan kawasan rawan, serta penguatan pihak-pihak yang berada di garis depan perlindungan hutan.
Pendekatan tersebut penting karena persoalan karhutla tidak cukup ditangani ketika api sudah membesar. Upaya pencegahan dinilai menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko kebakaran berulang.
2. Respons Kedaruratan
Fokus kedua adalah respons terhadap kondisi darurat ketika terjadi kebakaran.
Dana digunakan untuk mendukung pihak yang berada di lapangan agar dapat merespons kejadian dengan lebih cepat, termasuk membantu masyarakat yang terdampak.
Dengan demikian, gerakan ini tidak hanya berbicara mengenai konservasi jangka panjang, tetapi juga mendukung penanganan ketika kondisi darurat terjadi.
3. Restorasi Ekosistem
Setelah api padam, persoalan belum selesai.
Kerusakan akibat kebakaran dapat meninggalkan dampak panjang terhadap hutan, habitat satwa, sumber air dan masyarakat sekitar. Karena itu, misi ketiga diarahkan pada restorasi ekosistem, termasuk pemulihan kawasan dan perlindungan habitat.
Fokus restorasi menjadi bagian penting karena kawasan yang terbakar membutuhkan proses pemulihan dalam jangka menengah hingga panjang.
Libatkan Organisasi Konservasi dan Masyarakat
Gerakan ini tidak dirancang untuk dijalankan seorang diri.
Dalam pelaksanaannya, Ferry menggandeng sejumlah pihak yang memiliki pengalaman dalam bidang konservasi dan pemberdayaan masyarakat. Di antaranya organisasi yang bergerak dalam perlindungan hutan dan satwa serta kelompok masyarakat yang berada dekat dengan kawasan hutan.
Kolaborasi tersebut menjadi penting agar dana yang terkumpul dapat diarahkan kepada kegiatan yang benar-benar dibutuhkan di lapangan.
Ferry sebelumnya menekankan bahwa upaya menjaga hutan bukan persoalan sederhana. Dibutuhkan riset, dialog dengan berbagai pihak, pemahaman terhadap aturan, serta peninjauan langsung terhadap kondisi di lapangan sebelum sebuah skema perlindungan dapat dijalankan.
Dana untuk Hutan Bukan Sekadar Memadamkan Api
Pesan utama yang dibawa Ferry melalui gerakan ini adalah bahwa penyelamatan hutan tidak boleh berhenti pada pemadaman api.
Hutan yang tetap terjaga memiliki fungsi penting bagi penyimpanan karbon, kelembapan lahan gambut, habitat satwa, sumber air, hingga kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Karena itu, gerakan Patungan untuk Hutan mencoba membangun pendekatan yang lebih panjang: mencegah kebakaran, merespons ketika bencana terjadi, kemudian memulihkan ekosistem yang rusak.
Penyaluran Dana Karhutla Juga Sudah Berjalan
Data penyaluran yang tersedia di platform Kitabisa menunjukkan bahwa bantuan untuk penanganan karhutla di Kalimantan sebelumnya telah disalurkan kepada sejumlah organisasi dan relawan.
Per 27 Agustus 2026, Kitabisa mencatat total Rp476,994 juta telah tersalurkan melalui 12 penyaluran. Salah satu penyaluran terbesar tercatat untuk Ekspedisi Kitabisa X Ferry Irwandi sebesar sekitar Rp260,05 juta.
Data tersebut menjadi gambaran bahwa mekanisme dukungan untuk penanganan karhutla telah melibatkan berbagai kelompok di lapangan.
Dari Wacana Menjadi Gerakan Bersama
Bagi Ferry, gagasan patungan untuk hutan sebenarnya telah lama muncul dalam percakapan publik. Namun, ia menilai gagasan tersebut membutuhkan proses panjang agar dapat diwujudkan secara nyata.
Kini, melalui gerakan Patungan untuk Hutan, masyarakat diajak mengubah kepedulian menjadi aksi bersama.
Besarnya dana yang terkumpul dalam waktu singkat memperlihatkan bahwa isu perlindungan hutan mendapat perhatian luas. Tantangan berikutnya adalah memastikan dana tersebut dapat dikelola dan disalurkan secara tepat untuk mendukung masyarakat penjaga hutan, penanganan karhutla, serta pemulihan ekosistem.
Dengan tiga misi utama mitigasi, respons kedaruratan, dan restorasi gerakan ini membawa pesan bahwa menjaga hutan bukan pekerjaan satu orang atau satu organisasi, melainkan membutuhkan gotong royong banyak pihak.
Penulis: Ginevara | Editor: Ginevara