TERASBANDUNG.COM - Menko Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam), Mahfud MD meminta aparat penegak hukum harus meningkatkan kewaspadaan usai kejadian bom bunuh diri di Polsek Astana Anyar.

Berkaca pada kejadian ini, Mahfud meminta masyarakat lebih paham jika aparat penegak hukum melakukan tindakan tegas terhadap para pelaku terorisme.

Sebab, sikap tegas terkadang perlu dilakukan mengingat terorisme sebagai kejahatan kemanusiaan.

"Saya berharap juga kita semua waspada. Waspada, satu aparat, polisi, Densus, BNPT dan lainnya. Meningkatkan kewaspadaan karena ternyata jaringan teroris masih ada," ungkap Mahfud MD dlansir dari laman infopublik.

Baca Juga: Pandangan Islam Terkait Peledakan Bom di Astana Anyar Bandung, Ini Penjelasanya

"Sejak tahun 2018 sampai sekarang itu sudah jarang terjadinya, sekali-kali terjadi tetapi masih ada," sambungnya.

Mahfud MD mengungkapkan bahwa jaringan teroris masih ada maka tindakan preventif dan antisipatif dalam penanganan terorisme perlu dilakukan.

Dia juga berharap masyarakat bisa bekerja sama dengan negara terkait pencegahan aksi teror.

"Mari kerja sama saling pengertian menjaga negara ini. Kita bekerja sama karena ini negara kita bersama dan teroris itu adalah musuh kemanusiaan, bukan pejuang agama apa pun," tukasnya.

Baca Juga: Bom Bunuh Diri di Polsek Astana Anyar, Polisi Dalami Temuan Kertas Bertuliskan Protes RKUHP

Sebelumnya Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan bahwa terduga pelaku pernah ditangkap karena peristiwa bom Cicendo.

"Dari hasil pemeriksaan sidik jari identik menyebutkan bahwa indentitas pelaku adalah Agus sujatno yang biasa dikenal Agus muslim," kata Kapolri.

Pelaku pernah ditangkap dalam peristiwa bom Cicendo dan sempat dihukum selama 4 tahun. Pada September 2021 lalu, pelaku bebas.

Sigit mengatakan, pelaku merupakan eks napi teroris (napiter) yang ditahan di LP Nusakambangan dan terafiliasi dengan JAD (Jamaah Ansharut Daulah) Jabar.

"Pelaku terafiliasi dengan JAD Bandung atau JAD Jawa Barat. Tim bekerja untuk bisa menuntaskan apa yang terjadi," kata Sigit.**