TERASBANDUNG.COM – Upaya meningkatkan kesiapsiagaan generasi muda menghadapi ancaman gempa bumi terus dilakukan Institut Teknologi Bandung (ITB). Melalui Pusat Penelitian Mitigasi Bencana (PPMB) bersama Kelompok Keahlian (KK) Geofisika Global Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM), ITB menghadirkan program "Seismometer Goes to School" ke sejumlah sekolah menengah atas di Jawa Barat.
Program pengabdian kepada masyarakat tersebut tidak hanya memberikan materi mengenai kebencanaan, tetapi juga mengajak pelajar mengenal fenomena gempa melalui pendekatan yang lebih praktis. Sains kegempaan diperkenalkan melalui pengamatan gelombang seismik secara langsung hingga latihan evakuasi ketika terjadi guncangan.
Kegiatan ini dipimpin Dr. Ir. Zulfakriza, S.Si., M.T. bersama sejumlah akademisi dan pakar kebumian ITB, yakni Prof. Dr.Sc. Ir. Andri Dian Nugraha, S.Si., M.Si., Prof. Ir. Sri Widiyantoro, M.Sc., Ph.D., IPU, Dr. Ir. David Prambudi Sahara, S.T., M.T., Dr. Rexha Verdhora Ry, S.T., M.T., dan Dr. Shindy Rosalia, S.T., M.T.
Pelaksanaan program mendapat dukungan pendanaan melalui skema Community Development EQUITY Program – World Class University (WCU) Tahun Anggaran 2025–2026.
Pemilihan Jawa Barat sebagai salah satu sasaran program tidak terlepas dari kondisi tektoniknya. Indonesia berada di kawasan pertemuan sejumlah lempeng tektonik dunia sehingga memiliki aktivitas kegempaan dan vulkanisme yang tinggi.
Jawa Barat sendiri berada pada wilayah yang dipengaruhi aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia terhadap Busur Sunda. Pergerakan tersebut berkaitan dengan keberadaan sejumlah sumber gempa, termasuk sesar aktif di daratan.
Sejumlah kejadian gempa dalam beberapa tahun terakhir menjadi pengingat mengenai potensi ancaman tersebut. Gempa Cianjur berkekuatan M5,6 pada 2022, gempa Sumedang pada 2023, serta gempa Kertasari pada 2024 menunjukkan bahwa ancaman gempa dapat terjadi di berbagai wilayah Jawa Barat.
Kondisi tersebut membuat pemahaman mengenai mitigasi bencana menjadi penting, termasuk bagi kalangan pelajar yang menjadi bagian dari kelompok masyarakat yang perlu dibekali kemampuan menghadapi situasi darurat.
Belajar Gempa Tak Lagi Sekadar Teori
Melalui Seismometer Goes to School, PPMB ITB mencoba mengubah pembelajaran kegempaan menjadi pengalaman yang lebih interaktif.
Sepanjang Maret hingga Juni 2026, program tersebut menyambangi tiga sekolah di Jawa Barat, yakni Sekolah Alam (SM) Bandung pada 4 Maret 2026, SMA Negeri 1 Cileunyi pada 9 Maret 2026, serta SMA Negeri 3 Kuningan pada 12 Juni 2026.
Sebelum kegiatan berlangsung, tim terlebih dahulu melakukan audiensi teknis dengan sekolah untuk membahas kondisi serta jalur evakuasi yang dapat digunakan ketika terjadi keadaan darurat.
Setiap kunjungan berlangsung sekitar tiga jam dengan materi yang dibagi menjadi tiga bagian utama.
Pertama, pelajar diperkenalkan dengan sumber bahaya gempa di Jawa Barat, termasuk karakteristik sesar aktif dan proses pelepasan energi di dalam bumi.
Kedua, siswa diajak mengamati gelombang gempa secara real-time menggunakan Geolini, perangkat seismometer berbasis Internet of Things (IoT) yang dikembangkan ITB.
Dalam sesi tersebut, pelajar dapat melihat secara langsung bagaimana getaran yang mereka hasilkan melalui jump test diterjemahkan menjadi pola gelombang pada seismogram.
Metode tersebut membuat konsep yang selama ini dipelajari secara teoritis menjadi lebih mudah dipahami karena siswa dapat melihat respons alat terhadap getaran secara langsung.
Ketiga, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi tanggap darurat. Pelajar dilatih melakukan Drop, Cover, and Hold On, melindungi kepala, menjauh dari area yang berisiko seperti kaca, kemudian melakukan evakuasi menuju titik kumpul setelah guncangan berhenti.
Pemahaman Siswa Meningkat Lebih dari 45 Persen
Pendekatan langsung yang diterapkan dalam program tersebut menunjukkan hasil positif. Berdasarkan evaluasi setelah kegiatan, pemahaman peserta mengenai mitigasi bencana dan karakter gelombang gempa mengalami peningkatan lebih dari 45 persen.
Salah satu materi yang diperkuat adalah pemahaman mengenai gelombang P dan S. Siswa diperkenalkan pada konsep penggunaan data dari sejumlah stasiun seismik untuk membantu menentukan pusat gempa.
Program tersebut juga mengambil inspirasi dari pendekatan pendidikan kebencanaan di Jepang atau Bousai Kyoiku, termasuk pembelajaran dari keberhasilan evakuasi mandiri siswa dalam peristiwa gempa-tsunami Tohoku 2011 yang dikenal melalui kisah Miracle of Kamaishi.
Program Seismometer Goes to School tidak berhenti pada kegiatan edukasi tatap muka. Tim PPMB ITB juga merencanakan penempatan sensor Geolini secara permanen di laboratorium sekolah.
Keberadaan sensor tersebut diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran berkelanjutan sehingga siswa tidak hanya mengenal gempa melalui buku atau simulasi sesaat, tetapi juga dapat mengamati fenomena seismik secara langsung.
Ke depan, model edukasi ini juga direncanakan untuk direplikasi di wilayah Indonesia lainnya, terutama kawasan yang berada di sekitar zona sesar aktif.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun budaya sadar bencana sejak usia sekolah. Dengan menggabungkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan latihan kesiapsiagaan, ITB berupaya menjadikan pelajar bukan hanya memahami risiko gempa, tetapi juga memiliki respons yang tepat ketika bencana benar-benar terjadi.
Seluruh rangkaian kegiatan Seismometer Goes to School juga telah diabadikan dalam film dokumenter resmi yang ditayangkan melalui kanal YouTube DPMK ITB.***