TERASBANDUNG.COM - Kerusakan infrastruktur akibat luapan sungai dan tanah longsor di Kecamatan Coblong menjadi perhatian Pemerintah Kota Bandung.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, turun langsung meninjau sejumlah titik terdampak bencana pada Minggu (1/11/2026) dini hari.

Peninjauan yang berlangsung sekitar pukul 04.00 hingga 06.30 WIB itu dilakukan untuk mengevaluasi kondisi kerusakan sekaligus melihat kebutuhan penanganan yang harus segera dilakukan.

Dua lokasi menjadi perhatian utama Farhan, yakni kerusakan kirmir di sepanjang Sungai Cikalintu, Jalan Siliwangi Dalam IV, RT 09/RW 01, Kelurahan Cipaganti, serta titik longsor yang menghambat akses jalan masyarakat di Kelurahan Sekeloa.

Baca Juga : Bela Diri Asal Prancis Unjuk Gigi di Bandung, 84 Medali Diperebutkan dalam Eksebisi Porprov

Di kawasan Sungai Cikalintu, Farhan mendapati konstruksi penahan sungai yang sebelumnya telah diperkuat ternyata kembali mengalami kerusakan akibat derasnya aliran banjir bandang dari wilayah Lembang.

Padahal, pemerintah telah melakukan penguatan pada bagian kirmir dengan konstruksi tembok setebal 25 sentimeter. Namun, besarnya debit air yang datang dari kawasan hulu membuat bangunan tersebut tidak mampu bertahan.

"Kirmir sudah kita perkuat, ketebalannya 25 sentimeter. Tetapi karena volume banjir bandang dari Lembang begitu luar biasa, akhirnya jebol juga," ujar Farhan.

Kondisi tersebut membuat Pemkot Bandung perlu mempertimbangkan pendekatan berbeda dalam mengatasi persoalan banjir di kawasan tersebut. Farhan menilai normalisasi sungai bukan lagi pilihan utama sehingga diperlukan gagasan baru untuk mengurangi dampak kiriman air dari wilayah Lembang.

Terlebih, pekerjaan perbaikan di bagian hilir sungai saat ini masih berjalan. Sementara kerusakan terbaru justru terjadi di bagian tengah aliran sungai yang membutuhkan penanganan tersendiri.

"Normalisasi sungai sudah tidak memungkinkan. Maka kami sedang mencari berbagai macam ide baru untuk bisa meminimalkan dampak banjir bandang dari Lembang tersebut," katanya.

Farhan Soroti Tebing Longsor yang Ganggu Akses Warga Sekeloa

Persoalan lain yang ditemukan Farhan berada di Kelurahan Sekeloa. Di lokasi tersebut, tebing tanah milik seorang warga mengalami keruntuhan hingga materialnya menimpa rumah warga lainnya.

Meski material longsoran sudah dibersihkan, kondisi tebing masih berpotensi menimbulkan persoalan apabila tidak segera diperbaiki.

Baca Juga : Warga Bandung Bisa Konsultasi Hukum Gratis di CFD Dago, dari Warisan hingga Hak Cipta Lagu

Dampaknya tidak hanya menyangkut kerusakan bangunan, tetapi juga terganggunya mobilitas masyarakat. Akses jalan menuju lingkungan RT 04 dan RT 05 menjadi salah satu jalur yang terdampak akibat kejadian tersebut.

Farhan pun meminta pemilik lahan agar segera menjalin komunikasi dengan warga sekitar untuk membicarakan langkah penyelesaian. Sejumlah opsi penanganan dapat dipertimbangkan, mulai dari pemangkasan tebing hingga pembangunan kirmir sebagai penguat struktur tanah.

"Apabila tidak segera dibenahi oleh pemilik tanah, longsornya akan berulang. Sehingga akses warga di Kelurahan Sekeloa, khususnya yang menuju RT 04 dan RT 05, menjadi terputus terus," ungkapnya.

Menurut Farhan, kesepakatan antara pemilik lahan dan masyarakat perlu segera diwujudkan agar potensi longsor susulan dapat diantisipasi. Jika dibiarkan, persoalan tersebut dikhawatirkan terus menghambat aktivitas warga sekaligus meningkatkan risiko keselamatan masyarakat.

Peninjauan Dilakukan dalam Sasapu Bandung #29

Kunjungan ke sejumlah lokasi terdampak bencana tersebut sekaligus menjadi bagian dari pelaksanaan kegiatan Sasapu Bandung #29 di Kecamatan Coblong.

Baca Juga : Anderpas Resmi Dibuka di Bawah Flyover Pasupati, Pemkot Bandung Siapkan 60 Tenant Kuliner

Melalui kegiatan ini, Pemkot Bandung tidak hanya mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, tetapi juga memanfaatkan kegiatan lapangan untuk memantau langsung berbagai persoalan di wilayah perkotaan.

Peninjauan tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah dalam mengidentifikasi persoalan lingkungan dan infrastruktur yang membutuhkan perhatian, termasuk kerusakan akibat luapan sungai dan longsor.

Pemkot Bandung pun dihadapkan pada kebutuhan mencari solusi penanganan yang lebih efektif agar kejadian serupa tidak terus berulang dan keselamatan serta aktivitas masyarakat tetap terjaga.***