Ilustrasi orang berdoa. (Istimewa)
TERASBANDUNG.COM - Menjelang bulan suci, satu pertanyaan yang kerap muncul adalah soal niat puasa Ramadhan. Apakah niat harus diucapkan setiap malam sebelum Subuh?
Atau boleh diniatkan sekali saja di awal bulan untuk 30 hari penuh?
Perbedaan pendapat di kalangan ulama membuat sebagian umat Islam masih ragu. Agar tidak keliru, berikut penjelasan lengkap berdasarkan dalil hadis dan pandangan mazhab fikih.
Kapan Niat Puasa Ramadhan Harus Dilakukan?
Dalam puasa wajib seperti Ramadhan, qadha, dan nazar, niat harus ditetapkan sebelum terbit fajar. Dalam istilah fikih disebut tabyit an-niyyah, yaitu memastikan niat sudah ada di hati pada malam hari.
Hal ini didasarkan pada hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”
Baca Juga : Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026
Hadis lain dari Hafshah juga menegaskan:
“Barang siapa yang tidak berniat sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.”
Mayoritas ulama sepakat, puasa wajib tidak sah apabila niat belum dilakukan sebelum Subuh.
Perbedaan Pendapat Ulama Soal Niat Puasa
1. Mazhab Syafi’i: Harus Setiap Malam
Mazhab Syafi’i memandang setiap hari puasa sebagai ibadah tersendiri. Karena itu, niat wajib diperbarui setiap malam.
Jika seseorang lupa berniat di malam hari, maka puasanya hari itu tidak sah dan harus diganti.
2. Mazhab Maliki: Cukup Sekali di Awal Ramadhan
Berbeda dengan pendapat sebelumnya, Mazhab Maliki membolehkan niat dilakukan satu kali pada malam pertama Ramadhan untuk satu bulan penuh.
Dasarnya antara lain firman Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 185 tentang kewajiban berpuasa ketika menjumpai bulan Ramadhan. Kata “bulan” dipahami sebagai satu kesatuan waktu ibadah.
Baca Juga : Catat Sekarang! Jadwal Puasa Ramadan 1447 H Bandung dari Sahur sampai Berbuka
Meski demikian, banyak ulama menganjurkan tetap memperbarui niat setiap malam sebagai langkah kehati-hatian.
Bacaan Niat Puasa Ramadhan
Niat Puasa Harian
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta’ala.
Artinya:
“Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala.”
Niat Puasa Satu Bulan Penuh
نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitu shauma jami’i syahri Ramadhani hadzihis sanati fardhan lillahi ta’ala.
Artinya:
“Aku niat berpuasa sepanjang bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala.”
Mana yang Sebaiknya Dipilih?
Untuk menghindari keraguan, memperbarui niat setiap malam dinilai sebagai langkah paling aman karena mencakup kedua pendapat mazhab.
Perlu diingat, niat tidak harus dilafalkan keras. Cukup di dalam hati sebagai bentuk tekad menjalankan ibadah karena Allah SWT.
Niat puasa Ramadhan wajib dilakukan sebelum terbit fajar. Terkait apakah harus setiap malam atau cukup sekali, terdapat perbedaan pendapat ulama. Memperbarui niat setiap malam menjadi pilihan paling hati-hati.***
Penulis: Ely Kurniawati | Editor: Dadi Mulyanto