ITB petakan kemampuan matematika 6.600 siswa Bandung. Hasilnya, aljabar dan penalaran masih jadi tantangan utama. (Ist)
TERASBANDUNG.COM - Tim Mathematics Excellence Recognition Award (MathERA), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Institut Teknologi Bandung bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat menggelar kegiatan Pemetaan Kompetensi Matematika Siswa SD dan SMP Negeri dan Swasta se-Cekungan Bandung.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 3-4 Februari dan 10-11 Februari 2026 tersebut melibatkan sebanyak lebih dari 6.600 siswa dari jenjang SD dan SMP dari wilayah Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Sumedang, Kota Bandung, dan Kota Cimahi.
Kegiatan tersebut diselenggarakan bertujuan untuk memperoleh gambaran komprehensif mengenai tingkat kompetensi matematika siswa, memberikan umpan balik bagi sekolah, serta menyediakan dasar empiris bagi perumusan kebijakan pendidikan berbasis data.
Pemetaan dilakukan dengan pendekatan berbasis Item Response Theory (IRT), yang memungkinkan pengukuran kemampuan siswa secara lebih akurat melalui estimasi kemampuan laten (θ) serta tingkat kesulitan soal.
Berbeda dengan penilaian konvensional, pendekatan ini tidak hanya menilai benar atau salah, tetapi juga memetakan posisi kemampuan siswa dalam spektrum kompetensi matematika, yang mencakup pemahaman konseptual, kefasihan prosedural, penalaran matematis, pemecahan masalah serta komunikasi dan representasi matematis.
Berdasarkan pemetaan yang dilakukan di jenjang SD, hasil pemetaan menunjukkan bahwa distribusi kemampuan siswa SD masih didominasi oleh level rendah hingga menengah.
Dimana level 1 yang mencakup pemahaman konseptual dasar sebanya 20,79%, level 2 kemampuan prosedural 34,51%, level 3 penalaran 42,91%, level 4 penyelesaian masalah tingkat tinggi 1,79%.
"Temuan ini sejalan dengan hasil PISA dan TKA, di mana siswa Indonesia cenderung kesulitan pada soal berbasis penalaran. Artinya, kita perlu memperbaiki cara belajar, bukan hanya cara menguji," ujar Ketua pelaksana pemetaan, Prof. Dr. Edy Tri Baskoro.
Pola serupa juga terjadi dijenjang SMP, yang mana pada level 1 didapatkan 34,92%, level 2 sebesar 41,89%, level 3 sebesar 22,02% dan level 4 hanya 1,17%.
"Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan jenjang pendidikan belum secara signifikan meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa," sebutnya.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa kemampuan aljabar merupakan titik lemah utama siswa pada kedua jenjang. Diketahui rata-rata skor aljabar SD adalah 31,79 dan rata-rata skor aljabar SMP 27,00.
"Aljabar adalah bottleneck utama. Jika siswa lemah di aljabar sejak SD, maka kesulitan di SMP dan seterusnya hampir pasti terjadi, " tambah Dr. Gantina Rachmaputri selaku narahubung dari MathEra.
Gantina menambahkan melalui pemetaan tersebut diharapkan diperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai struktur kemampuan matematika siswa, sehingga intervensi pendidikan yang dilakukan dapat lebih tepat sasaran.
"Tim MathERA FMIPA ITB berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan sistem evaluasi dan pembelajaran matematika berbasis data guna meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia," tutupnya.***
Penulis: Ely Kurniawati | Editor: Dadi Mulyanto