Mudzakarah ANNAS III Tegaskan Pentingnya Jaga Akidah dan Persatuan Bangsa

Mudzakarah ANNAS III Tegaskan Pentingnya Jaga Akidah dan Persatuan Bangsa Peserta Mudzakarah Nasional III ANNAS menyimak pemaparan dari narasumber terkait antisipasi gerakan Syiah di Indonesia.

TERASBANDUNG.COM - Mudzakarah Nasional III Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) digelar di Grand Asrilia Hotel, Bandung, Minggu (26/4/2026).

Pertemuan tersebut dihadiri ratusan ulama, akademisi, tokoh masyarakat, hingga aktivis organisasi Islam dari berbagai daerah di Indonesia.

Kegiatan ini mengangkat tema “Antisipasi terhadap Gerakan Syiah dalam Menjaga Keutuhan Bangsa” dan menjadi ajang konsolidasi umat dalam menghadapi tantangan ideologis yang kian kompleks.

Sejak beberapa hari sebelum acara, peserta dari luar daerah mulai berdatangan. Total lebih dari 400 peserta hadir, termasuk sekitar 140 perwakilan cabang dan badan otonom ANNAS dari berbagai wilayah di Tanah Air.

Forum ini menegaskan keterkaitan erat antara isu akidah dan kebangsaan sebagai fondasi penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ketua Umum ANNAS, KH Athian Ali M Da’i, membuka acara dengan menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara komitmen keagamaan dan tanggung jawab kebangsaan.

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan Badan Intelijen Negara Daerah (BINDA) Jawa Barat turut menyampaikan paparan mengenai peran pemerintah dan masyarakat dalam menjaga stabilitas nasional.

Dalam sesi utama, pembahasan mudzakarah difokuskan pada dua hal strategis, yakni upaya penanggulangan ancaman terhadap akidah serta langkah menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sejumlah narasumber nasional turut memberikan pandangan dari berbagai perspektif, mulai dari aspek hukum, sosial, hingga strategi dakwah.

Tak sekadar menjadi forum diskusi, kegiatan ini juga dilanjutkan dengan sidang komisi yang membahas konsolidasi organisasi dan penyusunan program kerja ke depan.

Hasilnya kemudian dirumuskan dalam sidang paripurna sebagai rekomendasi resmi Mudzakarah Nasional ANNAS III.

Rekomendasi tersebut akan disampaikan kepada pemerintah, aparat penegak hukum, serta masyarakat luas sebagai kontribusi pemikiran dalam menjaga stabilitas nasional dan keutuhan bangsa.

Dalam wawancara terpisah, KH Athian Ali menekankan pentingnya langkah antisipatif terhadap potensi konflik akibat perbedaan pemahaman keagamaan. Dia menyinggung peristiwa konflik Sampang 2012 sebagai contoh yang tidak diharapkan terulang.

“Kita tidak ingin peristiwa berdarah seperti di Sampang terjadi kembali. Karena itu, ANNAS terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk aparat keamanan, untuk menjaga situasi tetap kondusif,” ujarnya.

Menurut Athian, setiap individu memiliki kebebasan dalam meyakini ajaran tertentu. Namun, penyampaian keyakinan di ruang publik perlu dilakukan secara bijak agar tidak memicu gesekan sosial.

Dia juga mengingatkan adanya dinamika di sejumlah negara yang mengalami konflik akibat perbedaan mazhab. “Itu yang kita coba antisipasi, jangan sampai terjadi di Indonesia. Kita ingin menjaga kesatuan bangsa dan mencegah potensi perpecahan,” katanya.

Athian menegaskan, ANNAS berperan dalam berkoordinasi dengan pemerintah dan aparat guna menjaga stabilitas. Menanggapi tudingan intoleransi, dia menyatakan, penegakan hukum terhadap pelanggaran tidak bisa disamakan dengan sikap intoleran.

“Kalau ada pelanggaran hukum, tentu harus ditindak. Itu bukan soal toleransi atau tidak, tapi penegakan aturan,” tegasnya.

Selain menghasilkan rekomendasi, ANNAS juga telah menyusun dan menyebarluaskan buku yang memuat pandangan organisasi terkait potensi dampak ajaran Syiah terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara kepada berbagai pejabat, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Melalui Mudzakarah Nasional ANNAS III ini, ANNAS kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga akidah sekaligus memperkuat persatuan bangsa di tengah dinamika yang terus berkembang. ***

Penulis: Tim Teras Bandung | Editor: Ginanjar

Berita Terkini