ITB Gandeng IPB, Unpad, dan Mitra Industri Dorong Produktivitas Susu Berkelanjutan melalui Suplementasi Zeolit Alam pada Pakan Sapi Perah

ITB Gandeng IPB, Unpad, dan Mitra Industri Dorong Produktivitas Susu Berkelanjutan melalui Suplementasi Zeolit Alam pada Pakan Sapi Perah Kolaborasi ITB, IPB, dan Unpad Lahirkan Terobosan Baru untuk Peternakan Sapi Perah Berkelanjutan. (Ist)

TERASBANDUNG.COM – Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui program World Class University Community Development SDGs menyelenggarakan workshop bertajuk Penerapan Suplementasi Zeolit Alam untuk Meningkatkan Produktivitas Susu Berkelanjutan pada Peternak Sapi Perah dalam Mendukung SDGs (Zero Hunger) di Kampus ITB Jatinangor, Sabtu (13/12/2025).

Kegiatan yang dipimpin oleh Dr. Rino Rakhmata Mukti ini menjadi wadah kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, koperasi, dan peternak dalam mendorong pemanfaatan hasil riset sebagai solusi nyata bagi peningkatan produktivitas susu nasional sekaligus mendukung pembangunan peternakan yang berkelanjutan.

Workshop ini merupakan bagian dari Program EQUITY (Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition) yang bertujuan memperkuat peran perguruan tinggi dalam memberikan dampak nyata bagi masyarakat melalui pengabdian berbasis riset.

Baca Juga : Korban Tewas Gempa Jepang Terus Bertambah! Sudah 13 Orang, Tim Penyelamat Berpacu dengan Waktu

Melalui kegiatan ini, ITB berupaya mempercepat hilirisasi inovasi akademik agar dapat diterapkan secara langsung oleh peternak, sehingga hasil penelitian tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Kegiatan tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari akademisi, koperasi susu, kelompok peternak, hingga pelaku industri. Kolaborasi multipihak ini diharapkan mampu mempercepat adopsi teknologi tepat guna serta memperkuat sinergi dalam membangun ekosistem peternakan sapi perah yang lebih produktif, efisien, dan berdaya saing.

Workshop melibatkan Institut Teknologi Bandung sebagai penyelenggara, Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Padjadjaran (Unpad) sebagai mitra akademik, Koperasi Produsen KSU Tandangsari, Koperasi Susu Indonesia, kelompok peternak sapi perah Tandangsari dan Ujung Berung, serta PT Paragon Perdana Mining sebagai mitra industri yang mendukung penyediaan zeolit alam.

Program ini juga melibatkan mahasiswa ITB, Dian Hutami Wahyudi dan Anita Kulsum, yang berkontribusi dalam penyusunan materi penyuluhan, koordinasi dengan mitra, dokumentasi kegiatan, serta pendampingan peserta selama workshop berlangsung.

Baca Juga : Cihapit Jadi Surga Kuliner Baru di Bandung, Deretan Tempat Makan Hits Ini Wajib Masuk Daftar!

Keterlibatan mahasiswa merupakan implementasi Tridharma Perguruan Tinggi yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sekaligus memberikan pengalaman langsung dalam menyelesaikan permasalahan nyata di lapangan.

Menjawab Tantangan Produksi Susu Nasional

Penyelenggaraan workshop ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kebutuhan susu nasional yang terus bertambah setiap tahun, sementara produksi susu dalam negeri masih belum mampu memenuhi permintaan tersebut.

Kondisi ini menyebabkan Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku susu dalam jumlah besar. Di tingkat peternak, produktivitas sapi perah juga masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari tingginya biaya pakan, fluktuasi kualitas hijauan, hingga gangguan metabolisme seperti asidosis rumen yang berdampak pada penurunan produksi susu.

Di tengah tantangan tersebut, diperlukan inovasi yang tidak hanya efektif secara ilmiah, tetapi juga mudah diterapkan dan ekonomis bagi peternak rakyat. Salah satu teknologi yang diperkenalkan dalam workshop ini adalah pemanfaatan zeolit alam sebagai suplemen pakan sapi perah.

Baca Juga : NGERI! Gempa Dahsyat Hantam Jepang, Bangunan Runtuh dan Ribuan Warga Mengungsi

Zeolit merupakan mineral aluminosilikat berpori yang memiliki kemampuan adsorpsi dan pertukaran ion yang tinggi. Karakteristik tersebut memungkinkan zeolit membantu menjaga kestabilan kondisi rumen, meningkatkan efisiensi pemanfaatan nutrien pakan, serta mendukung kesehatan sistem pencernaan sapi.

Berbagai hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan zeolit dapat membantu menurunkan emisi amonia dari limbah peternakan sehingga memberikan manfaat tambahan dalam mendukung praktik peternakan yang lebih ramah lingkungan.

Kolaborasi Akademisi untuk Hilirisasi Riset

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Dr. Rino Rakhmata Mukti, Prof. Suwardi mewakili IPB, David Prambudi Sahara dari Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB, serta Toto, S.Pd. selaku Ketua KSU Tandangsari.

Dalam sambutannya, Dr. Rino menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan hasil penelitian dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

"Perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa inovasi tersebut dapat diterapkan guna menyelesaikan permasalahan yang dihadapi masyarakat. Melalui kolaborasi dengan industri, koperasi, dan peternak, kami berharap hasil riset mengenai pemanfaatan zeolit alam dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan produktivitas susu sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak," ujarnya.

Pada sesi ilmiah, Prof. Masyur dari Unpad memaparkan mekanisme kerja zeolit alam sebagai suplemen pakan sapi perah, termasuk pengaruhnya terhadap keseimbangan lingkungan rumen dan kesehatan ternak.

Baca Juga : Kasus HIV/AIDS di Bandung Capai 10.771, Wali Kota Farhan Perkuat Strategi STOP dan Tolak Stigma ODHIV

Selanjutnya, Prof. Nahrowi dari IPB menjelaskan aspek nutrisi, formulasi pakan, serta strategi penerapan zeolit alam pada sistem peternakan sapi perah rakyat.

Antusiasme Peternak

Workshop berlangsung dalam suasana yang hangat dan interaktif. Para peternak menunjukkan antusiasme tinggi terhadap teknologi yang diperkenalkan.

Hal ini terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama sesi diskusi, mulai dari mekanisme kerja zeolit di dalam rumen, dosis dan metode pencampuran dalam ransum, hingga potensi peningkatan produksi susu setelah penggunaan zeolit secara rutin.

Selain berdiskusi mengenai aspek teknis, para peternak juga berbagi pengalaman mengenai berbagai tantangan yang mereka hadapi, seperti tingginya biaya pakan, perubahan kualitas hijauan pada musim kemarau, serta upaya menjaga kesehatan ternak agar tetap produktif.

Diskusi dua arah tersebut menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara peneliti dan peternak sehingga solusi yang ditawarkan dapat disesuaikan dengan kondisi nyata di lapangan.

Implementasi Awal dan Pendampingan

Sebagai tindak lanjut dari workshop, dilakukan penyerahan zeolit alam kepada koperasi susu dan kelompok peternak sebagai bentuk implementasi awal penggunaan zeolit sebagai suplemen pakan sapi perah. Penyerahan dilakukan oleh perwakilan ITB, PT Paragon Perdana Mining, dan Universitas Padjadjaran.

Baca Juga : Bandara Husein Kantongi Sertifikat Operasional, Siap Sambut Kembali Penerbangan Boeing 737-800

Selain itu, tim pengabdian juga menyerahkan modul penyuluhan berjudul "Penerapan Suplementasi Zeolit Alam untuk Meningkatkan Produktivitas Susu Berkelanjutan pada Peternakan Sapi Perah Dalam Mendukung SDGs 2 (Zero Hunger)" yang disusun sebagai panduan praktis bagi peternak.

Modul tersebut memuat informasi mengenai karakteristik zeolit, manfaat penggunaannya, tata cara pencampuran dalam pakan, hingga rekomendasi penerapan di tingkat peternakan rakyat.

Melalui kegiatan ini, peternak tidak hanya memperoleh pengetahuan baru mengenai pemanfaatan zeolit alam, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mendiskusikan implementasinya secara langsung dengan para ahli.

Ke depan, kolaborasi antara akademisi, industri, koperasi, dan peternak diharapkan dapat terus berlanjut melalui kegiatan pendampingan dan evaluasi sehingga penerapan zeolit alam dapat memberikan manfaat yang optimal.

Sebagai bagian dari komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan, kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger) melalui peningkatan produktivitas peternakan dan ketahanan pangan nasional, serta SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui penerapan praktik peternakan yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Kolaborasi lintas sektor yang dibangun dalam program ini menjadi contoh bagaimana hasil penelitian di perguruan tinggi dapat dihilirisasi menjadi solusi inovatif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat daya saing sektor peternakan Indonesia.***

Penulis: Ely Kurniawati | Editor: Dadi Mulyanto

Berita Terkini