Dok. Banjir dikawasan Kopo Sayati. (foto:RRI/Agusgunawan)
TERASBANDUNG.COM - Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kabupaten Bandung menyiapkan solusi jangka panjang untuk mengatasi banjir di Jalan Raya Kopo Sayati atau Jalan Dengdek (Jadek), Kecamatan Margahayu.
Salah satu rencana yang disiapkan adalah pembangunan Banjir Kanal Cikahiyangan sepanjang kurang lebih satu kilometer.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Bupati Bandung Dadang Supriatna, dan Danlanud Sulaiman Marsma TNI Eko Sujatmiko telah meninjau kawasan tersebut pada Senin (12/10/2026) untuk mengidentifikasi titik penyebab banjir.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Bandung, Zeis Zultaqawa, mengatakan normalisasi sungai menjadi solusi cepat. Namun, langkah tersebut dinilai belum mampu mengatasi akar persoalan banjir yang terus berulang.
"Soalnya penyebab banjirnya belum diselesaikan. Pertama Sungai Cikahiyangan merupakan saluran irigasi, kedua penampang basahnya yang kecil, lalu kebiasaan masyarakat yang masih suka membuang sampah ke sungai," ujar Zeis, kepada awak media, Rabu (14/10/2026).
Sebagai penanganan awal, pemerintah akan melakukan normalisasi Sungai Cikahiyangan dan memasang trash trap atau perangkap sampah.
Fasilitas tersebut harus dilengkapi petugas serta mekanisme pengangkutan sampah yang jelas agar tidak menyumbat aliran air.
"Tapi ya itu tadi, tidak menyelesaikan ke akar masalahnya. Kalau hujan besar ditambah masyarakat masih suka buang sampang ke saluran pembuangan tersebut, ya pasti banjir lagi," katanya.
Untuk jangka panjang, pembangunan Banjir Kanal Cikahiyangan diusulkan guna menampung dan mengalihkan aliran air dari wilayah hulu agar tidak meluap ke permukiman. Gubernur Jawa Barat disebut telah menyetujui usulan tersebut.
"Panjang Banjir Kanal Cikahiyangan kurang lebih 1 Km," jelasnya.
Zeis memperkirakan pembangunan kanal membutuhkan waktu hingga satu tahun. Pembebasan lahan milik warga berpotensi menjadi salah satu faktor yang memperpanjang proses pengerjaan dan menambah kebutuhan anggaran.
"Iya yang lama itu kan kalau harus membebaskan lahan milik warga. Biaya pembuatannya mahal? sudah pasti mahal. Tapi kalau bicara dampaknya selama bertahun-tahun terhadap warga, tentu jauh lebih banyak kerugiannya jika banjir ini dibiarkan terus menerus tanpa solusi pasti," ucapnya.
"Quick solution banjir Jadek Kopo dengan melakukan normalisasi Sungai Cikahiyangan dan pemasangan trash trap. Terus solusi jangka panjangnya, KDM setuju untuk bangun Banjir Kanal Cikahiyangan," bebernya.
Zeis menjelaskan, banjir berulang dipicu sedimentasi dan tumpukan sampah yang menyebabkan Sungai Cikahiyangan meluap ke jalan.
Ada 20 Titik Penyempitan Sungai
Selain itu, terdapat penyempitan penampang sungai di sekitar 20 titik sehingga kapasitas aliran tidak memadai ketika debit air meningkat.
"Jadi banjir Jadek mah penyebabnya, pertama meluapnya Sungai Cikahiyangan akibat penumpukan sedimen dan juga sampah di beberapa titik sehingga meluap ke jalan dan menyebabkan banjir," kata Zeis.
"Penyebab kedua, luas penampang basah dari Sungai Cikahiyangan yang memang terjadi penyempitan di 20 titik sehingga menyebabkan banjir ketika debit air yang masuk terlalu besar," tambahnya.
Persoalan lainnya adalah perubahan fungsi lahan persawahan menjadi permukiman yang tidak diimbangi sistem drainase memadai.
Baca Juga : Trotoar dan Drainase Kiaracondong Dibersihkan, Farhan Soroti Aturan PKL dan Parkir
Saluran Cikahiyangan sebelumnya berfungsi sebagai saluran pembuangan irigasi dari sebagian wilayah Kota Bandung menuju Sungai Citarum di Kabupaten Bandung, dengan panjang saluran utama 3.432 meter dan saluran anak 1.286 meter.
"Iya dulunya tidak disiapkan saluran-saluran drainase, dan cenderung memanfaatkan saluran yang ada yaitu bekas saluran pembuangan irigasi. Bedanya saluran irigasi dan drainase yakni, muka air irigasi letaknya lebih tinggi dari permukaan tanah agar bisa mengairi, sedangkan muka air drainase lebih rendah dari permukaan tanah. Itulah kenapa saluran irigasi mudah meluap," bebernya.
"Debit air yang masuk ke jaringan ini merupakan buangan dari sebagian wilayah Kota Bandung menuju ke sungai Citarum yang ada di Kabupaten Bandung. Hasil inventarisasi yang telah dilakukan, terdapat beberapa titik genangan yang diakibatkan oleh penyempitan saluran dan tersumbatnya aliran air pada gorong-gorong atau jembatan," pungkasnya.***
Penulis: Tim Teras Bandung | Editor: Dadi Mulyanto