BMKG Ungkap Puncak Kemarau di Bandung, Siang Capai 32 Derajat dan Malam Lebih Dingin

BMKG Ungkap Puncak Kemarau di Bandung, Siang Capai 32 Derajat dan Malam Lebih Dingin Jalan Layang Pasteur-Surapati (Pasupati) di Kota Bandung, yang kini berganti nama menjadi Jalan Prof Mochtar Kusumaatmadja. (Daddy Mulyanto/TERASBANDUNG.COM)

TERASBANDUNG.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung menyatakan wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung Raya, kini memasuki fase puncak musim kemarau.

Periode tersebut diperkirakan berlangsung sepanjang Juli hingga Agustus 2026 dengan karakteristik cuaca yang semakin cerah, curah hujan menurun, serta perbedaan suhu yang cukup terasa antara siang dan malam.

Prakirawan Cuaca BMKG Bandung, Yuni Yulianti, menjelaskan bahwa puncak musim kemarau di kawasan Bandung Raya umumnya terjadi pada Agustus. Kondisi ini dipengaruhi oleh angin monsun Australia yang membawa massa udara dingin dan kering menuju wilayah Indonesia bagian selatan.

Baca Juga : DPRD Bandung Dorong Bank Bandung Jadi Perseroda, Targetkan PAD Meningkat dan UMKM Makin Berkembang

"Hal ini ditandai dengan sudah sangat berkurangnya awan-awan konvektif yang berpotensi membentuk hujan. Selain itu, suhu udara pada pagi dan dini hari terasa lebih dingin akibat angin monsun Australia yang membawa udara dingin dan kering," ujar Yuni, Jumat, 24 Juli 2026.

BMKG menjelaskan, berkurangnya tutupan awan membuat sinar matahari dapat mencapai permukaan bumi secara lebih maksimal. Akibatnya, suhu udara pada siang hari meningkat dan di Bandung diperkirakan berada di kisaran 31 hingga 32 derajat Celsius.

Sebaliknya, saat malam hingga menjelang pagi, panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah dilepaskan ke atmosfer karena minimnya tutupan awan. Kondisi inilah yang menyebabkan udara terasa lebih dingin dibandingkan biasanya.

Perbedaan suhu yang cukup kontras antara siang dan malam merupakan karakter umum saat wilayah memasuki puncak musim kemarau.

Awal Kemarau Datang Lebih Lambat

Menanggapi anggapan bahwa kondisi cuaca saat ini berkaitan langsung dengan pemanasan global, Yuni menjelaskan durasi musim kemarau tahun 2026 secara umum masih berada dalam kategori normal. Namun, awal musim kemarau di Bandung Raya memang mengalami keterlambatan karena baru dimulai pada Juni.

"Secara durasi masih cukup normal. Di Bandung Raya, awal musim kemarau baru dimulai pada Juni sehingga memang sedikit terlambat memasuki musim kemarau," jelasnya.

Baca Juga : Bandung Siap Punya BRT Modern, Farhan Ungkap Tarif Rp7.000 dan Nasib Angkot

Menurut BMKG, keterlambatan tersebut dipengaruhi oleh dinamika iklim global, salah satunya fenomena El Niño yang menyebabkan suhu permukaan laut di kawasan Pasifik ekuator lebih hangat dari kondisi normal.

Fenomena El Niño turut berdampak pada berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat. Karena itu, BMKG memperkirakan intensitas hujan selama musim kemarau tahun ini akan lebih rendah dibandingkan rata-rata klimatologis.

"Untuk musim kemarau tahun ini memang curah hujannya lebih rendah dibandingkan klimatologisnya atau lebih sedikit," tandasnya.

BMKG mengimbau masyarakat untuk mulai mengantisipasi dampak musim kemarau, seperti peningkatan suhu pada siang hari, udara yang lebih dingin saat malam hingga dini hari, serta potensi berkurangnya ketersediaan air di sejumlah wilayah apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang.***

Penulis: Ely Kurniawati | Editor: Dadi Mulyanto

Berita Terkini